Perang Panas, IMF Ungkap 3 Skenario Terburuk Ekonomi Dunia login HOME MARKET MY MONEY NEWS TECH LIFESTYLE SHARIA ENTREPRENEUR CUAP CUAP CUAN CNBC TV Search Search Search History Loading… RESEARCH OPINION PHOTO VIDEO INFOGRAPHIC BERBUATBAIK.ID MARKET DATA MAJOR INDEXES INDO-FX USD-FX COMMODITIES BONDS CNBC Indonesia Research Berita Research Newsletter Perang Panas, IMF Ungkap 3 Skenario Terburuk Ekonomi Dunia Comment SHARE url telah tercopy Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia 15 April 2026 06:25 Foto: Infografis/ 22 Emiten yang Sudah Umumkan Dividen 2026, Siapa Paling Royal? / Aristya Rahadian Pasar keuangan RI ditutup beragam, saham naik, rupiah melemah, sementara obligasi stagnan Wall Street kompak menguat karena investor mengabaikan ketegangan geopolitik Kelanjutan perang dan penantian pengumuman MSCI menjadi sentimen penggerakan pasar pada hari ini Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam pada perdagangan kemarin Selasa (14/4/2026). Bursa saham naik, rupiah melemah, dan Surat Oblihgasi Negara (SBN) mengalami stagnasi. Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan masih menghadapi tekanan yang cukup berat pada hari ini karena ketidakpastian perang yang masih terjadi ditambah dengan aksi sell-off yang masih terjadi di pasar domestik. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 2,34% atau naik 175,76 poin ke level 7.675,95 pada penutupan perdagangan kemarin, Selasa (14/4/2026). Sebanyak 548 saham naik, 151 turun, dan 119 tidak bergerak. Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp 24,85 triliun, melibatkan 53,31 miliar saham dalam 3,11 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun naik menjadi Rp 13.710 triliun. Nyaris seluruh sektor perdagangan menguat dengan kenaikan terbesar dicatatkan sektor infrastruktur dan barang baku, sedangkan hanya konsumer non primer yang melemah kemarin. Emiten konglomerat dan saham-saham blue chip fundamental kompak menguat signifikan kemarin. Adapun penggerak utama kinerja IHSG kemarin yakni DSSA (PT Dian Swastatika Sentosa Tbk), MORA (PT Mora Telematika Indonesia Tbk), BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk),BRPT (PT Barito Pacific Tbk), BBCA (PT Bank Central Asia Tbk), BREN (PT Barito Renewables Energy Tbk), AMMN (PT Amman Mineral Internasional Tbk), dan BMRI (PT Bank Mandiri (Persero) Tbk). Adapun pergerakan pasar finansial dan komoditas global kemarin diwarnai oleh berbagai rilis data makroekonomi utama dari kawasan Asia seperti neraca perdagangan China, PPI AS, serta dinamika geopolitik yang masih memanas karena tidak ditemukannya titik tengah negosiasi perang Iran-AS. Militer Amerika Serikat mulai memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang keluar dari pelabuhan Iran pada Senin sementara Teheran mengancam akan membalas terhadap pelabuhan negara-negara tetangganya di kawasan Teluk setelah perundingan akhir pekan di Islamabad untuk mengakhiri perang mengalami kegagalan. Seorang pejabat AS mengatakan komunikasi dengan Iran masih terus berlangsung, dan terdapat kemajuan dalam upaya mencapai kesepakatan. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga menyatakan bahwa upaya penyelesaian konflik masih berjalan. Lanjut ke mata uang Garuda, Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (14/4/2026). Melansir data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan dengan depresiasi 0,09% ke level Rp17.110/US$. Posisi ini sekaligus menjadi level penutupan terlemah sepanjang masa baru bagi mata uang Garuda. Pelemahan tersebut juga memperpanjang tren negatif rupiah menjadi empat hari perdagangan beruntun sejak 9 April 2026. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB justru terpantau melemah sekitar 0,20% ke level 98,176. Pelemahan rupiah pada perdagangan kemarin terjadi di tengah kondisi dolar AS yang justru sedang melemah di pasar global. Artinya, rupiah belum mampu memanfaatkan pelemahan greenback untuk berbalik menguat. Dolar AS saat ini bergerak di dekat level terendah dalam enam pekan, seiring munculnya harapan bahwa konflik Iran dapat mereda. Kondisi ini menekan harga minyak dan mendorong perbaikan selera risiko investor. Presiden AS Donald Trump mengatakan masih ada pihak-pihak yang menginginkan kesepakatan antara AS dan Iran, meski pembicaraan kedua negara pada akhir pekan lalu belum membuahkan hasil. Di saat yang sama, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyampaikan kepada mitranya dari Prancis, Jean-Noel Barrot, bahwa negosiasi telah mencatat kemajuan dalam banyak isu meskipun belum mencapai kesepakatan final. Perkembangan ini membuat dolar AS melemah karena perannya sebagai aset safe haven mulai berkurang. Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan moneternya untuk menjaga stabilitas rupiah. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan bank sentral akan tetap hadir di pasar secara terukur, baik di pasar spot, NDF, maupun DNDF. Terakhir ke pasar obligasi Indonesia, imbal hasil SBN 10 tahun terpantau mengalami stagnasi di level 6,604% dari penutupan hari perdagangan sebelumnya di level yang sama. Berdasarkan data dari Refinitiv, SBN tidak mengalami pergerakan sama sekali selama satu hari penuh. Dari pasar saham AS, bursa Wall Street menguat pada Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia. Bursa menguat karena pelaku pasar mengabaikan gagalnya pembicaraan damai antara AS dan Iran, namun tetap optimistis bahwa kesepakatan antara kedua negara masih mungkin tercapai. Indeks S&P 500 naik 1,18% dan ditutup di 6.967,38. Dow Jones Industrial Average terapresiasi 317,74 poin, atau 0,66%, ke level 48.535,99. Sementara Nasdaq Composite melonjak 1,96% dan berakhir di 23.639,08. Saham-saham teknologi kembali menopang pasar secara keseluruhan. Oracle misalnya, naik 4,7%, melanjutkan kenaikan lebih dari 12% pada sesi sebelumnya. Nvidia dan Palantir Technologies juga mencatat sesi positif. Baca: Mengapa Blokade Hormuz Ala Trump Jadi Judi Berbahaya? Wall Street sekali lagi menunjukkan ketahanan di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Indeks-indeks utama mencatat kenaikan solid di awal pekan meskipun negosiasi AS-Iran runtuh selama akhir pekan. Presiden Donald Trump juga mengatakan pada Senin bahwa pihak Iran telah menghubungi AS karena sangat ingin membuat kesepakatan. Kenaikan pada Senin menghapus seluruh kerugian S&P 500 sejak perang Iran dimulai. “Saya tidak ingin menutup kemungkinan adanya eskalasi kembali dan pelemahan lanjutan dari sini, tetapi saya rasa kemungkinannya kecil. Saya pikir pasar sudah memperhitungkan tingkat kecemasan tertentu terkait Iran,” kata Ross Mayfield, ahli strategi investasi di Baird, kepada CNBC International. “Tampaknya kita kembali mendekati rekor tertinggi dengan posisi pasar yang lebih bersih serta latar belakang yang lebih mendukung, ditambah musim laporan keuangan yang seharusnya mendorong sentimen bullish.” Imbuhnya. Pa
Related Posts
Leo/Bagas Lolos ke Semifinal Orleans Masters 2026 usai Sikat Duo India
- CSNBro
- 20 Maret 2026
- 0
Leo/Bagas Lolos ke Semifinal Orleans Masters 2026 usai Sikat Duo India
Hasil Nottingham Forest vs Liverpool di Liga Inggris: The Reds Menang Dramatis lewat Gol Injury Time
- CSNBro
- 22 Februari 2026
- 0
Hasil Nottingham Forest vs Liverpool di Liga Inggris: The Reds Menang Dramatis lewat Gol Injury Time
Catatkan Prestasi Positif, PT IIM Raih Enam Penghargaan Bergengsi
- CSNBro
- 4 Maret 2026
- 0
Catatkan Prestasi Positif, PT IIM Raih Enam Penghargaan Bergengsi
