Pengusaha Bongkar Marak Pabrik di RI Pindah ke Vietnam karena Pesangon login HOME MARKET MY MONEY NEWS TECH LIFESTYLE SHARIA ENTREPRENEUR CUAP CUAP CUAN CNBC TV Search Search Search History Loading… RESEARCH OPINION PHOTO VIDEO INFOGRAPHIC BERBUATBAIK.ID MARKET DATA MAJOR INDEXES INDO-FX USD-FX COMMODITIES BONDS CNBC Indonesia News Berita Pengusaha Bongkar Marak Pabrik di RI Pindah ke Vietnam karena Pesangon Comment SHARE url telah tercopy Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia 14 April 2026 17:35 Foto: (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) Jakarta, CNBC Indonesia – Pengusaha ungkap salah satu penyebab banyaknya perusahaan yang hengkang atau relokasi ke luar negeri, terutama ke negara-negara lain di ASEAN. Adapun faktor tersebut yakni besaran pesangon. Wakil Ketua Umum Bidang Ketenagakerjaan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Subchan Gatot mengatakan besaran pesangon di Indonesia menjadi yang paling tinggi jika dibandingkan dengan Vietnam dan Kamboja. Baca: Bos Pengusaha Sebut Lowongan Kerja di RI Sudah Lampu Kuning, Kenapa? “Terkait relokasi industri dari Indonesia ke Vietnam dan Kamboja, jadi memang secara nominal di sini tingkat upah Indonesia itu relatif kompetitif dibandingkan dengan negara lain di Kawasan ASEAN, namun itu bukan satu-satunya yang dilihat oleh investor, mereka juga melihat dari hubungannya total biaya yang memang dianggap tidak kompetitif akibat tingginya kewajiban pesangon yang jauh di atas negara pesaing. Jadi, bagaimana terjadinya relokasi industri dari Indonesia ke Vietnam dan juga Kamboja,” kata Subchan dalam paparannya saat rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi IX DPR RI, terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketenagakerjaan, Selasa (14/4/2026). Subchan merinci jumlah pesangon yang harus dibayar kepada pekerja yang masa bekerjanya sudah satu tahun yakni satu bulan gaji. Sedangkan di Vietnam dan Kamboja, besaran pesangon yang harus dibayarkan kepada pekerja yang masa bekerjanya sudah satu tahun yakni setengah bulan gaji. “Ini juga yang membuat tekanan cukup tinggi bagi perusahaan, di mana total pesangon pekerja di Indonesia rata-rata masa bekerja 1 tahun adalah 1 bulan gaji. Sedangkan di Vietnam dan Kamboja itu 0,5 bulan gaji pesangonnya,” lanjutnya. Ia menambahkan potensi pesangon di Indonesia bisa mencapai 19 bulan gaji untuk pekerja dengan masa kerja 10 tahun. Sedangkan di Vietnam hanya mencapai 5 bulan gaji untuk masa bekerja 10 tahun. Selain itu, biaya pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia juga terbilang tinggi yakni mencapai 240% lebih tinggi dari Vietnam dan Kamboja. “Adanya disparitas ini, membuat perusahaan ingin merelokasi pabriknya ke luar Indonesia. Jadi memang pesangon kita masih cukup tinggi, sehingga memang beban yang dipikul oleh pengusaha di Indonesia kalau kita melihat perbandingan ini, wajar kalau memang sebagian itu melakukan ekspansi ke luar, terutama ke Vietnam dan Kamboja,” terangnya. Selain itu, persoalan lain terletak pada ketidaksesuaian antara upah minimum dan kemampuan riil industri. Upah minimum di Indonesia tercatat sekitar US$334,60, lebih tinggi dibanding Vietnam yang sebesar US$204. Namun, rata-rata kemampuan bayar sektor manufaktur di Indonesia hanya sekitar US$188,31. Baca: Bos Pengusaha Bongkar Lesunya Kondisi Pabrik Semen RI, Utilisasi Turun Sebaliknya, di Vietnam, rata-rata upah riil justru berada di atas upah minimum, yakni sekitar US$342. Kondisi ini membuat banyak perusahaan padat karya di Indonesia kesulitan memenuhi ketentuan upah minimum. “Sebagian besar upah minimum memang tidak bisa dipenuhi oleh perusahaan padat karya,” ujarnya. (chd/wur) [Gambas:Video CNBC] Next Article Respons Menaker Soal Ramai Pabrik di Jabar Hengkang ke Jawa Tengah Tags #relokasi pabrik #pesangon #ketenagakerjaan #investasi #vietnam #kamboja #biaya tenaga kerja #industri manufaktur #pengusaha indonesia #upah minimum Related Articles Bos Pengusaha Kasih Nasihat Jangan Asal Relokasi Pabrik, Ini Alasannya NEWS Bos Buruh Tunjuk Biang Kerok Pabrik Ramai Hengkang-Relokasi NEWS Banyak Pabrik Hijrah ke Jawa Tengah, Ternyata Segini UMK-nya NEWS Banyak Pabrik Pindah dari Jabar ke Jateng, Kemenperin Respons Begini NEWS Recommendation SHOW MORE Most Popular Features Loading… part of Download Apps Connect With Us ©2026 CNBC Indonesia, A Transmedia Company Kategori Market My Money News Tech Lifestyle Sharia Entrepreneur Cuap Cuap Cuan Research Opinion Photo Video Infographic Berbuatbaik.id Layanan berbuatbaik.id Pasangmata Adsmart detikEvent Trans Snow World Trans Studio Informasi Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Karir Disclaimer CNBC Indonesia My Investment Jaringan Media CNN Indonesia CNBC Indonesia Haibunda Insertlive Beautynesia Female Daily CXO Media
Related Posts
Profil Nora Alexandra: Agama, Keturunan, Pekerjaan, hingga Foto Zaman Dulu
- CSNBro
- 10 Maret 2026
- 0
Profil Nora Alexandra: Agama, Keturunan, Pekerjaan, hingga Foto Zaman Dulu
Kalah Tipis dari Manila Digger, Dewa United Siapkan Comeback di Tangerang
- CSNBro
- 6 Maret 2026
- 0
Kalah Tipis dari Manila Digger, Dewa United Siapkan Comeback di Tangerang
Profil Ven Ajahn Siripanyo, Anak Konglomerat yang Tinggalkan Warisan Rp80 Triliun Demi Jadi Biksu
- CSNBro
- 5 Maret 2026
- 0
Profil Ven Ajahn Siripanyo, Anak Konglomerat yang Tinggalkan Warisan Rp80 Triliun Demi Jadi Biksu
