Bukan Selat Hormuz, Ini Jalur Laut yang Paling Bahaya Jika Ditutup login HOME MARKET MY MONEY NEWS TECH LIFESTYLE SHARIA ENTREPRENEUR CUAP CUAP CUAN CNBC TV Search Search Search History Loading… RESEARCH OPINION PHOTO VIDEO INFOGRAPHIC BERBUATBAIK.ID MARKET DATA MAJOR INDEXES INDO-FX USD-FX COMMODITIES BONDS CNBC Indonesia Research Berita Research Bukan Selat Hormuz, Ini Jalur Laut yang Paling Bahaya Jika Ditutup Comment SHARE url telah tercopy Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia 29 March 2026 11:00 Foto: Reuters Jakarta, CNBC Indonesia – Perjalanan kapal kontainer dari pelabuhan Shanghai menuju Rotterdam umumnya memakan waktu sekitar satu bulan. Rute ini melintasi berbagai titik strategis mulai dari Selat Taiwan, Laut China Selatan, Selat Malaka, Samudra Hindia, Bab al-Mandab, Terusan Suez, hingga Selat Gibraltar. Selama puluhan tahun, jalur-jalur air ini menjadi urat nadi yang menopang kelancaran ekonomi dunia. Baca: China Diam-diam Pasok Senjata Canggih ke Iran, Amerika Buka Suara Namun, dinamika geopolitik terkini yang memicu penutupan Selat Hormuz dan gangguan keamanan di Laut Merah menyadarkan banyak pihak, bahwa kebebasan navigasi maritim kini berada dalam ancaman serius. Pemetaan Skala Kerentanan Jalur Laut Sekitar 85% volume perdagangan global dan 55% nilainya didistribusikan melalui jalur laut. Berdasarkan analisis pemodelan rute pelayaran, tingkat kepentingan sebuah jalur tidak hanya diukur dari volume perdagangan yang lewat, melainkan dari ketersediaan rute alternatif apabila jalur utama terputus. Baca: Krisis Baru Dimulai: Dari Energi ke Pangan, Dunia Masuk Zona Bahaya Model ini memperhitungkan rute paling efisien antar pelabuhan tersibuk dan memproyeksikan pergeseran lalu lintas angkutan laut apabila sebuah selat terblokir. Foto: Titik-titik paling kritis dalam jalur pelayaran dunia sekaligus mengukur proyeksi persentase perdagangan laut yang akan lumpuh beserta tambahan jarak tempuh armada jika rute-rute strategis tersebut terblokir. (dok. Economist) Ancaman Utama Berada di Asia Tenggara Berdasarkan data pemodelan, penutupan Selat Hormuz yang memakan biaya sangat besar dan menghentikan 6% perdagangan maritim secara total ternyata bukanlah skenario terburuk secara volume. Skenario paling fatal bagi rantai pasok global justru berada di Asia Tenggara. Jika seluruh selat yang membentang dari Malaka hingga Australia diblokir, dampaknya akan melumpuhkan 26% perdagangan maritim global. Kapal-kapal akan terpaksa mengambil rute memutar dengan rata-rata tambahan jarak tempuh mencapai 7.797 kilometer. Baca: Segini Tarif Fantastis Kapal yang Mau Melintasi Selat Hormuz Selain itu, penutupan kawasan Laut China Selatan juga berpotensi mengganggu 24% perdagangan global. Sebagai perbandingan, penutupan Selat Taiwan yang memiliki tensi geopolitik tinggi tercatat berdampak pada 13% perdagangan, namun hanya memerlukan rute memutar yang relatif singkat. Disparitas Dampak Ekonomi Antar Kawasan Konsekuensi dari gangguan navigasi ini akan memberikan beban yang berbeda bagi kekuatan ekonomi utama dunia. Amerika Serikat diproyeksikan relatif lebih terlindungi dari sebagian besar skenario pemblokiran jalur laut. Penutupan Selat Korea, yang paling berdampak bagi AS, hanya akan mengganggu 14% perdagangannya dengan rute pengalihan yang minim. Sebaliknya, Uni Eropa akan menghadapi situasi kritis jika Selat Gibraltar dan Terusan Suez ditutup secara bersamaan. Baca: Jauh dari Timur Tengah: Bursa RI Malah Paling Menderita, Arab Tertawa Skenario tersebut dapat mengunci pergerakan kapal dari Mediterania, berdampak pada sekitar 40% perdagangan laut Eropa, di mana 26% di antaranya akan terhenti total. China juga memiliki tingkat kerentanan yang tinggi, karena gangguan di jalur Asia Tenggara dapat menghambat lebih dari 40% perdagangan maritim negara tersebut. – Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut. CNBC INDONESIA RESEARCH [email protected] (gls/gls) Add as a preferred source on Google Tags #jalur perdagangan #navigasi maritim #selat hormuz #laut china selatan #ekonomi global #pemodelan rute pelayaran #gangguan perdagangan #asia tenggara #dampak ekonomi #keamanan maritim Related Articles Ngeri! Ini Krisis Minyak Dunia Paling Mengguncang Sepanjang Sejarah RESEARCH Jejak Selat Hormuz: dari Kekaisaran Persia hingga Jadi Urat Nadi Dunia RESEARCH Daftar Negara yang Paling Bergantung pada Selat Hormuz, AS Justru Aman RESEARCH 10 Jalur Perdagangan Terpenting Dunia: Selat Hormuz – Terusan Suez RESEARCH Most Popular Recommendation SHOW MORE part of Add as a preferred source on Google Connect With Us ©2026 CNBC Indonesia, A Transmedia Company Kategori Market My Money News Tech Lifestyle Sharia Entrepreneur Cuap Cuap Cuan Research Opinion Photo Video Infographic Berbuatbaik.id Layanan berbuatbaik.id Pasangmata Adsmart detikEvent Trans Snow World Trans Studio Informasi Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Karir Disclaimer CNBC Indonesia My Investment Jaringan Media CNN Indonesia CNBC Indonesia Haibunda Insertlive Beautynesia Female Daily CXO Media
Related Posts
Mo Salah Mandul 77 Menit Vs Nottingham, Reaksi di Bangku Cadangan Jadi Sorotan
- CSNBro
- 23 Februari 2026
- 0
Mo Salah Mandul 77 Menit Vs Nottingham, Reaksi di Bangku Cadangan Jadi Sorotan
Dalam 25 Tahun, Berapa Kali NU dan Muhammadiyah Merayakan Lebaran Beda?
- CSNBro
- 19 Maret 2026
- 0
Dalam 25 Tahun, Berapa Kali NU dan Muhammadiyah Merayakan Lebaran Beda?
Pengacara Anak Riza Chalid Protes Sidang Kerap Rampung Dini Hari: Tak Manusiawi
- CSNBro
- 20 Februari 2026
- 0
Pengacara Anak Riza Chalid Protes Sidang Kerap Rampung Dini Hari: Tak Manusiawi
