Masa Depan Prabowonomics ada di Pasar Modal login HOME MARKET MY MONEY NEWS TECH LIFESTYLE SHARIA ENTREPRENEUR CUAP CUAP CUAN CNBC TV Search Search Search History Loading… RESEARCH OPINION PHOTO VIDEO INFOGRAPHIC BERBUATBAIK.ID CNBC Indonesia Opini Berita Opini Masa Depan Prabowonomics ada di Pasar Modal Comment SHARE url telah tercopy Ahmad Mikail, CNBC Indonesia 25 February 2026 10:39 Ahmad Mikail Ahmad Mikail adalah pemerhati ekonomi dan pasar modal. Selain sebagai ekonom kepala di Sucor Sekuritas, dia juga merupakan dosen tidak tetap program studi Ilmu Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia sejak tahun 2014… Selengkapnya Foto: Presiden Prabowo Subianto. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com Di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia memasuki fase kebijakan yang lebih ambisius dan agresif. Dari sisi peningkatan kapasitas produksi agenda hilirisasi sumber daya alam, penguatan industri strategis, swasembada pangan, transformasi energi, dan program pembangunan 3 juta rumah per tahun mencerminkan upaya untuk mempercepat transformasi struktural ekonomi nasional. Sementara itu dari sisi permintaan Prabowo sungguh bersemangat untuk melakukan redistribusi pendapatan melalui program makan bergizi gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih. Dorongan yang kuat dari kebijakan-kebijakan tersebut diharapkan akan menciptakan Big Push yang membuat ekonomi Indonesia tumbuh di aras 8% per tahun. Suatu angka yang sakral bagi Prabowo yang menginginkan Indonesia keluar dari jebakan kelas menengah dan menuju negara maju di tahun 2045. Semua itu dibungkus dengan apa yang disebut sebagai Prabowonomics. Baca: Nobel Ekonomi, Prabowonomics, dan Kesenjangan Inovasi Kita Bila melihat program-program besar Prabowo tersebut terutama program dari sisi peningkatan kapasitas produksi, sumber pendanaan yang besar untuk membiaya berbagai program tersebut pasti akan terbentur pada keterbatasan pendanaan dalam negeri. Financial architecture di dalam negeri yang kurang memadai hampir selalu berujung pada bottleneck pembiayaan. Negara dapat memiliki visi pembangunan yang besar, tetapi tanpa sistem keuangan yang mampu menyediakan pendanaan jangka panjang secara efisien, visi tersebut berisiko berubah menjadi beban fiskal atau ekspansi kredit yang tidak berkelanjutan.Dari Bank-Based ke Market Based EconomyIndonesia menghadapi paradoks pembangunan yang jarang disadari: ambisi ekonomi terus membesar, tetapi arsitektur pembiayaan yang menopangnya masih tertinggal dalam paradigma lama. Selama bertahun-tahun, sebagai contoh, diskursus publik mengenai pasar modal cenderung terjebak dalam ilusi ekuitas – sebuah keyakinan bahwa perkembangan pasar saham identik dengan pendalaman sistem keuangan. Indeks saham yang naik dianggap sebagai simbol kemajuan, jumlah investor ritel yang meningkat dipersepsikan sebagai demokratisasi keuangan, dan aktivitas IPO diperlakukan sebagai indikator modernisasi ekonomi. Namun sejarah ekonomi global menunjukkan transformasi industrial jarang ditopang oleh pasar saham semata. Tulang punggung sesungguhnya dari kapitalisme modern adalah pasar obligasi yang dalam dan instrumen pembiayaan berbasis aset yang mampu mendistribusikan risiko secara luas dan menyediakan pendanaan jangka panjang dalam skala besar.Model kapitalisme Indonesia selama beberapa dekade berkembang dalam kerangka bank-centric. Perbankan menjadi sumber utama pembiayaan korporasi dan rumah tangga, sebuah struktur yang efektif pada tahap awal pembangunan karena memungkinkan alokasi kredit yang cepat dan terkontrol. Namun model ini memiliki batas alami yang sering kali baru terlihat ketika ekonomi memasuki fase industrialisasi yang lebih kompleks. Bank menghimpun dana dari deposito yang relatif berjangka pendek, sementara proyek industrialisasi membutuhkan pembiayaan jangka panjang dengan tenor puluhan tahun. Ketidaksesuaian ini menciptakan keterbatasan struktural yang sulit diatasi tanpa pendalaman pasar obligasi domestik. Negara-negara yang berhasil melakukan lompatan industrial – mulai dari Korea Selatan hingga Malaysia – memahami bahwa transisi dari bank-based financing menuju market-based financing merupakan prasyarat bagi pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan.Kondisi makroekonomi yang mendukungMomentum untuk melakukan transformasi sebenarnya sudah tersedia dalam dinamika makroekonomi Indonesia sekarang. Dalam satu dekade terakhir, yield obligasi pemerintah tenor panjang (10 tahun) menunjukkan tren penurunan struktural dari level di atas 10 persen menjadi kisaran enam persen. Penurunan ini bukan hanya refleksi stabilitas makroekonomi yang meningkat, tetapi juga sinyal bahwa biaya modal jangka panjang semakin rendah dan kredibilitas kebijakan fiskal serta moneter semakin kuat. Namun implikasi terpenting dari tren ini sering kali tidak dibaca secara strategis. Ketika yield obligasi negara menurun, investor institusional yang berinvestasi dalam jangka panjang secara alami mencari alternatif instrumen keuangan dengan imbal hasil lebih tinggi namun tetap dalam batas risiko yang dapat diterima. Dalam sejarah perkembangan pasar keuangan global, fase seperti ini sering menjadi titik awal ekspansi obligasi korporasi dan instrumen sekuritisasi aset.Kisah Sukses MalaysiaBerkaca dengan apa yang terjadi dengan Malaysia yang sering masyarakat kita sebut sebagai adik kandung Indonesia, memperlihatkan bagaimana financial deepening tidak terjadi secara spontan, melainkan melalui desain kebijakan yang konsisten. Malaysia membangun pasar obligasi domestik yang dalam melalui strategi nasional yang terintegrasi, termasuk pengembangan sekuritisasi sektor properti melalui institusi keuangan bernama Cagamas. Hasilnya adalah struktur pembiayaan yang lebih seimbang antara bank dan pasar modal, dengan porsi obligasi korporasi yang hampir sama dengan utang perbankan dalam total pembiayaan utang perusahaan (hampir 40%). Perbedaan utama antara Indonesia dan Malaysia bukan hanya soal ukuran pasar, tetapi tentang cara melihat peran sistem keuangan dalam pembangunan: apakah pasar modal dipandang sebagai pelengkap kebijakan ekonomi saja, atau sebagai fondasi utama transformasi struktural. Malaysia melihat pasar modal sebagai jalan keluar kebutuan sistem perbankannya dalam menyalurkan pembiayaan yang murah pascakrisis keuangan 98.Kisah sukses Cagamas dan menciptakan rumah yang terjangkau bagi rakyat Malaysia selama lebih dari 30 tahun disebabkan kemampuan institusi tersebut menghubungkan pendanaan jangka panjang dari pasar modal melalui penerbitan obligasi korporasi dan sekuritsasi aset dengan kebutuhan masyarakat akan pendanaan perumahan jangka panjang dengan beban bunga yang relatif rendah. Berdasarkan data statistik Malaysia tercatat rata-rata rakyat Malaysia membeli rumah dengan bunga 8%-12 % dengan tenor 15 tahun di tahun 80 an. Kini di
Related Posts
Dunia Andalkan Indonesia Damaikan Gaza Melalui ISF
- CSNBro
- 23 Februari 2026
- 0
Dunia Andalkan Indonesia Damaikan Gaza Melalui ISF
Profil Sigit Widyawan, Ipar 'Tajir' Jokowi yang Duduki Kursi Komisaris Utama Semen Indonesia
- CSNBro
- 17 Februari 2026
- 0
Profil Sigit Widyawan, Ipar 'Tajir' Jokowi yang Duduki Kursi Komisaris Utama Semen Indonesia
Momen Prabowo Beri Hormat Usai Dipuji Trump soal Pasukan Perdamaian Gaza
- CSNBro
- 19 Februari 2026
- 0
Momen Prabowo Beri Hormat Usai Dipuji Trump soal Pasukan Perdamaian Gaza
