Tak Takut AS-Israel, Dubes Iran Ungkap Kekuatan Rahasia Rudal Teheran

Tak Takut AS-Israel, Dubes Iran Ungkap Kekuatan Rahasia Rudal Teheran login HOME MARKET MY MONEY NEWS TECH LIFESTYLE SHARIA ENTREPRENEUR CUAP CUAP CUAN CNBC TV Search Search Search History Loading… RESEARCH OPINION PHOTO VIDEO INFOGRAPHIC BERBUATBAIK.ID MARKET DATA MAJOR INDEXES INDO-FX USD-FX COMMODITIES BONDS CNBC Indonesia News Berita Internasional Tak Takut AS-Israel, Dubes Iran Ungkap Kekuatan Rahasia Rudal Teheran Comment SHARE url telah tercopy Tommy Patrio Sorongan,  CNBC Indonesia 03 March 2026 17:40 Foto: Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyampaikan pidatonya dalam konferensi pers di kediaman Duta Besar Iran, menyusul serangan Israel dan AS terhadap Iran dan pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, di Jakarta, Indonesia, 2 Maret 2026. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana Jakarta, CNBC Indonesia – Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan posisi negaranya yang kian tangguh di tengah ketegangan geopolitik global. Boroujerdi menekankan bahwa selama puluhan tahun, Iran telah membangun kemandirian total, terutama dalam aspek pertahanan dan teknologi militer yang kini menjadi kekuatan utama negara tersebut tanpa bergantung pada bantuan asing. Kekuatan militer Iran diklaim telah mencapai titik di mana negara-negara adidaya tidak lagi memiliki keunggulan informasi atas alutsista yang dimiliki Teheran. Menurut Boroujerdi, penguasaan teknologi secara nasional ini merupakan hasil dari upaya berdiri di atas kaki sendiri yang telah dilakukan secara konsisten sejak hampir setengah abad yang lalu. “Tetapi yang saya bisa sampaikan adalah sejak 47 tahun yang lalu negara kami telah berdiri di atas kaki sendiri dan juga menguasai berbagai teknologi militer secara nasional,” ujar Mohammad Boroujerdi dalam pernyataan resmi di kediamannya di Jakarta, Senin (2/3/2026). Pilihan Redaksi Timur Tengah Chaos! AS Minta Warganya Segera Cabut dari 14 Negara Ini Menlu AS Akui Serang Iran karena Israel, Trump Kena Semprot Kongres Analisis SBY soal Perang Iran Vs AS-Israel: Sudah Meluas dan Membesar Boroujerdi secara gamblang menyebut bahwa kemandirian teknologi militer Iran menjadi tantangan besar bagi Amerika Serikat (AS) dan Israel. Hal ini dikarenakan persenjataan Iran dikembangkan sepenuhnya di dalam negeri, sehingga pihak Barat tidak memiliki data intelijen maupun kendali teknis atas senjata-senjata yang diproduksi secara mandiri tersebut. “Dan justru hal inilah yang menjadi sebuah tantangan dan kesulitan dan persoalan bagi Amerika Serikat dan Rezim Zionis Israel, dikarenakan mereka tidak berdaya untuk melawan senjata yang tidak mereka ekspor dan teknologinya tidak berasal dari mereka. Karena mereka tidak mengenal senjata yang Iran produksi, dan inilah kemampuan senjata Iran yang dapat melemahkan pihak musuh,” tegasnya. Terkait peluang diplomasi, Boroujerdi menjelaskan bahwa sebuah perundingan membutuhkan dasar kepercayaan yang kuat sebagai prinsip mendasar. Ia menyinggung pengalaman pahit Iran saat menjalin kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang justru dikhianati oleh pihak Washington secara sepihak meski telah didukung resolusi internasional. “Bagi orang-orang yang mengenal politik, berlatar belakang ilmu politik, atau sekadar mengenal politik dan pentas politik, mengetahui bahwa langkah pertama dan prinsip mendasar dari sebuah negosiasi adalah membangun kepercayaan. Tentu kami telah melakukan hal tersebut dengan Amerika Serikat. Membangun kepercayaan berasal dari melaksanakan berbagai jenis komitmen,” tuturnya. “Kami telah bernegosiasi dengan Amerika Serikat dan mencapai sebuah kesepakatan yang bernama JCPOA atau Kesepakatan Nuklir Iran. JCPOA telah di-endorse oleh resolusi Dewan Keamanan untuk memperkuat kesepakatan tersebut. Tetapi apa yang terjadi? Amerika Serikat secara sepihak keluar dari kesepakatan.” Kekecewaan Iran semakin mendalam karena upaya negosiasi lanjutan yang dilakukan selalu berakhir dengan serangan fisik di lapangan tepat saat kesepakatan mulai menunjukkan titik terang. Boroujerdi mengungkapkan bahwa berkali-kali proses diplomasi dihancurkan oleh agresi militer yang dilakukan oleh pihak lawan di tengah-tengah berlangsungnya putaran perundingan. “Setelah itu, kami lima kali atau lima putaran melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat. Sudah amat dekat kepada kesepakatan, tetapi sebelum putaran keenam, Zionis Israel dan Amerika menyerang kami. Lagi-lagi setelah itu, baru-baru ini dua kali negosiasi. Sebelum penyerangan, dua kali negosiasi kami lakukan dengan Amerika. Sebelum negosiasi yang ketiga, hal yang sama terjadi yaitu serangan terhadap Iran. Ini terjadi pada saat berbagai pihak yang berada dalam negosiasi menyampaikan adanya kemajuan signifikan,” jelas Boroujerdi. Kini, Iran mempertanyakan jaminan keamanan jika harus kembali ke meja perundingan dengan pihak yang dianggap tidak konsisten. Boroujerdi memastikan bahwa meski Iran mengharapkan jalur diplomasi dan demokrasi, mereka menolak untuk kembali terjebak dalam skenario negosiasi yang hanya digunakan sebagai alat tipu daya untuk meluncurkan serangan militer. “Dan saya ingin tanya kepada Anda: jika Anda seorang berkeinginan membuat keputusan untuk melakukan negosiasi dengan orang atau pemerintah yang memiliki ciri seperti yang saya sebutkan di atas ini, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, apakah Anda akan tetap melakukan negosiasi atau tidak? Tentu perlu jaminan. Apa jaminannya? Bagaimana bisa dipercayakan kembali? Apa jaminan sebuah kesepakatan tidak dimanfaatkan kembali dan tidak disalahgunakan?” “Tentu kami adalah pihak yang mengharapkan negosiasi, ingin demokrasi, tetapi kami pada saat bersamaan tidak ingin menjadi pihak yang ditipu oleh negosiasi. Negosiasi dilakukan tetapi berujung kepada penyerangan,” pungkasnya. (tps/luc) Add as a preferred source on Google [Gambas:Video CNBC] Next Article Resmi! Iran Akhiri Perjanjian Nuklir JCPOA, Dunia di Ambang Petaka? Tags #iran #kekuatan militer #teknologi pertahanan #diplomasi #jcpoa #kemandirian #amerika serikat #ketegangan geopolitik #israel #negosiasi internasional Related Articles Perang Hampir Pecah, Ramai Negara Minta Warganya Tinggalkan Iran NEWS Menguak Ultimatum Trump ke Iran, Serangan Militer Tak Semudah Itu NEWS China Bangun Kapal Induk Nuklir Pertama, Saingi Kekuatan AS NEWS Iran Cabut dari Perjanjian Nuklir, Sebut Tekanan AS Cs Tak Sah NEWS Recommendation SHOW MORE Most Popular Features Loading… part of Add as a preferred source on Google Connect With Us ©2026 CNBC Indonesia, A Transmedia Company Kategori Market My Money News Tech Lifestyle Sharia Entrepreneur Cuap Cuap Cuan Research Opinion Photo Video Infographic Berbuatbaik.id Layanan berbuatbaik.id Pasangmata Adsmart detikEvent Trans Snow World Trans Studio Informasi Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Karir Disclaimer CNBC Indonesia My Investment Jaringan Media CNN Indonesia CNBC Indonesia Haibunda Insertlive Beautynesia Female Daily CXO Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *