Perang AS-Israel Vs Iran Meluas, Negara Teluk Terjebak di Persimpangan login HOME MARKET MY MONEY NEWS TECH LIFESTYLE SHARIA ENTREPRENEUR CUAP CUAP CUAN CNBC TV Search Search Search History Loading… RESEARCH OPINION PHOTO VIDEO INFOGRAPHIC BERBUATBAIK.ID MARKET DATA MAJOR INDEXES INDO-FX USD-FX COMMODITIES BONDS CNBC Indonesia News Berita Internasional Perang AS-Israel Vs Iran Meluas, Negara Teluk Terjebak di Persimpangan Comment SHARE url telah tercopy luc, CNBC Indonesia 03 March 2026 04:00 Foto: (REUTERS/Stringer) Daftar Isi Serangan dan Balasan Perang yang Berusaha Dihentikan Dilema yang Menyakitkan Skenario Mimpi Buruk Era Baru Perang Antarnegara? Jakarta, CNBC Indonesia – Ledakan rudal yang menghantam ibu kota dan kota-kota besar Teluk sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran telah mengguncang citra kawasan itu sebagai oase stabilitas di tengah Timur Tengah yang kerap dilanda konflik. Kini, negara-negara Teluk menghadapi pilihan yang disebut para analis sebagai mustahil, yakni membalas dan berisiko dipersepsikan berperang bersama Israel, atau tetap pasif saat kota-kota mereka terbakar. Hingga saat ini, suara-suara dari dalam kawasan menyerukan penahanan diri. Mereka memperingatkan bahwa negara-negara Teluk tidak boleh terseret ke dalam perang yang tidak mereka inginkan dan tidak mereka anggap sebagai perang mereka. Mantan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Hamad bin Jassim bin Jaber Al Thani, dalam unggahan di platform X menegaskan bahwa negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) “tidak boleh terseret ke dalam konfrontasi langsung dengan Iran”, meskipun Teheran “melanggar kedaulatan negara-negara anggota Dewan dan merupakan pihak agresor”. “Ada kekuatan yang menginginkan negara-negara anggota Dewan terlibat langsung dengan Iran,” tulis Sheikh Hamad, dilansir Al Jazeera, Senin (2/3/2026). “Namun, bentrokan langsung antara negara-negara anggota Dewan dan Iran, jika terjadi, akan menguras sumber daya kedua belah pihak dan memberikan kesempatan bagi banyak kekuatan untuk mengendalikan kita dengan dalih membantu kita keluar dari krisis.” Ia mendesak negara-negara GCC bertindak sebagai satu tangan yang bersatu dalam menghadapi setiap agresi, sambil menghindari risiko “dihabisi satu per satu”. Pandangan tersebut mencerminkan sentimen yang lebih luas di kawasan bahwa konflik ini bukan milik mereka. Baca: Perang Iran Makin Liar Bisa Bawa Masalah Besar, Pemerintah Bisa Apa? Serangan dan Balasan Serangan Iran terjadi sebagai balasan atas gempuran besar-besaran gabungan AS-Israel yang dimulai Sabtu. Operasi itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pemimpin militer senior, serta menghantam lokasi militer dan pemerintahan di seluruh Iran. Sebuah sekolah juga terkena serangan, dan sedikitnya 148 orang tewas dalam satu serangan tersebut saja. Teheran kemudian membalas dengan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta aset militer AS di seluruh kawasan Teluk. Sedikitnya tiga orang tewas di Uni Emirat Arab (UEA), dengan setidaknya 58 orang terluka hingga Minggu malam. Rudal berikut puing-puingnya setelah dicegat, menghantam bangunan ikonik dan bandara di Dubai, gedung-gedung tinggi di Manama, serta bandara Kuwait. Asap juga terlihat membubung dari beberapa lingkungan di Doha. Arab Saudi menyatakan Iran juga menyerang Riyadh dan wilayah timurnya. Qatar melaporkan 16 orang terluka di wilayahnya, sementara lima orang terluka di Oman, 32 di Kuwait, dan empat di Bahrain. UEA bahkan menarik duta besarnya untuk Israel, sinyal tegas atas frustrasi negara-negara Teluk terhadap arah eskalasi konflik. Baca: Pakar: Perang AS-Israel vs Iran Berpotensi Panjang, RI Diminta Waspada Perang yang Berusaha Dihentikan Negara-negara Teluk disebut tidak menginginkan konfrontasi ini. Dalam beberapa pekan sebelum serangan, Oman memediasi perundingan tidak langsung antara Washington dan Teheran. Menteri Luar Negeri Oman, Badr bin Hamad al-Busaidi, bahkan menyatakan perdamaian sudah “dalam jangkauan” setelah Iran sepakat tidak akan menimbun uranium yang diperkaya dan akan mengencerkan secara drastis cadangan yang ada. Namun hanya beberapa jam kemudian, AS dan Israel meluncurkan rudal. Al-Mudahka mempertanyakan mengapa perang meningkat ketika Oman telah mengamankan kesepakatan yang ia sebut “lebih baik dari kesepakatan Obama”. Ia mengatakan Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, telah melobi Washington secara intensif agar tidak menggunakan pangkalan di Teluk untuk operasi melawan Iran. Ia juga mengkritik respons Iran, menyebut Teheran berada dalam “mode panik” setelah kehilangan kepemimpinannya. Menurutnya, dalih Iran bahwa mereka menargetkan pangkalan AS, bukan negara tuan rumah, menunjukkan “kurangnya pemahaman tentang hubungan internasional”. Al-Mudahka menyatakan yakin GCC akan tetap teguh menolak penggunaan wilayah udara mereka untuk operasi AS atau Israel. Baca: Selat Hormuz Membara! 3 Kapal Dihantam Rudal, Begini Kata Iran Dilema yang Menyakitkan Meski berupaya menjaga jarak dari pusaran konflik, para analis menilai negara-negara Teluk kini berada dalam posisi yang serba sulit. Monica Marks, profesor politik Timur Tengah di New York University Abu Dhabi, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa bagi warga dan para pemimpin di kawasan Teluk, menyaksikan Manama, Doha, dan Dubai dibom “sama aneh dan tak terbayangkannya seperti melihat Charlotte, Seattle, atau Miami dibom bagi warga Amerika.” Menurut Marks, negara-negara Teluk “telah melihat perang ini datang secara perlahan selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, dan telah mengerahkan upaya besar untuk menghentikannya.” Rob Geist Pinfold, dosen di King’s College London, juga menilai negara-negara GCC telah berusaha keras mencegah pecahnya aksi militer. “Negara-negara GCC tidak menginginkan perang ini. Mereka mencoba melobi untuk menentangnya,” ujarnya. Namun, jika mereka akhirnya terlibat dan dipandang bekerja sama dengan Israel, hal itu akan menjadi tantangan besar bagi legitimasi mereka. Di sisi lain, tetap pasif ketika Iran berulang kali melancarkan serangan juga membawa risiko tersendiri. Pinfold menyebut situasi ini sebagai sebuah dilema rumit. “Pada akhirnya, pemerintah-pemerintah ini responsif terhadap opini publik,” katanya. “Mereka ingin terlihat melindungi rakyatnya, melindungi wilayahnya, dan melindungi kedaulatannya.” Ia memperkirakan negara-negara Teluk mungkin akan mengambil langkah dengan cara mereka sendiri, kemungkinan melalui upaya kolektif GCC seperti Peninsula Shield Force (PSF), ketimbang sekadar membuka wilayah udara bagi operasi Amerika Serikat dan Israel. PSF dibentuk pada 1984 dan berkembang menjadi Unified Military Command pada 2013. “Mereka tidak ingin terlihat bekerja untuk Israel atau bekerja bersama Israel,” kata Pinfold. “Mereka ingin terlihat memimpin, bukan sekadar mengikuti.” Baca: Khamenei Meninggal, Ini Daftar Petinggi Iran Tewas di Tangan AS-Israel Skenario Mimpi Buruk Kekhawatiran paling mendesak bagi para
Related Posts
BGN Pastikan MBG Terus Berlanjut Usai Idul Fitri, Bahkan Diperluas
- CSNBro
- 3 Maret 2026
- 0
BGN Pastikan MBG Terus Berlanjut Usai Idul Fitri, Bahkan Diperluas
Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Semua Biaya LPDP Plus Bunga ke Negara
- CSNBro
- 23 Februari 2026
- 0
Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Semua Biaya LPDP Plus Bunga ke Negara
Tekanan Global Bayangi Reformasi Pasar Modal, Investor Ritel Perlu Dilindungi
- CSNBro
- 18 Februari 2026
- 0
Tekanan Global Bayangi Reformasi Pasar Modal, Investor Ritel Perlu Dilindungi
