Konflik Iran-AS, Investor Galau Serok di Bawah atau Cabut dari Pasar login HOME MARKET MY MONEY NEWS TECH LIFESTYLE SHARIA ENTREPRENEUR CUAP CUAP CUAN CNBC TV Search Search Search History Loading… RESEARCH OPINION PHOTO VIDEO INFOGRAPHIC BERBUATBAIK.ID MARKET DATA MAJOR INDEXES INDO-FX USD-FX COMMODITIES BONDS CNBC Indonesia Market Berita Market Konflik Iran-AS, Investor Galau Serok di Bawah atau Cabut dari Pasar Comment SHARE url telah tercopy Mentari Puspadini, CNBC Indonesia 09 March 2026 15:35 Foto: Kepulan asap hitam tebal terlihat membumbung dari depot minyak Sharan di Teheran pada Minggu (8/3) setelah Israel mengonfirmasi telah menyerang depot dan kilang bahan bakar di Iran sehari sebelumnya. (Tangkapan Layar Video Reutes/WANA) Jakarta, CNBC Indonesia – Investor memulai pekan lalu dengan keyakinan bahwa serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran hanya akan menjadi konflik singkat yang dapat diabaikan pasar. Bahkan, indeks S&P 500 sempat mencatat kenaikan tipis pada awal pekan lalu. Namun pada akhir pekan, kekhawatiran meningkat bahwa lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah yang meluas dapat memicu guncangan global. Situasi ini bahkan mulai dibandingkan dengan dampak ekonomi dari invasi Russian ke Ukraine yang memicu ancaman stagflasi. Baca: Purbaya: Dolar Rp17.000 Karena Sebagian Ekonom Bilang RI Resesi Melansir The Wall Street Journal, para investor tengah bertanya-tanya apakah kekhawatiran pasar menjadi peluang untuk membeli saat harga turun atau justru sinyal untuk keluar sebelum situasi memburuk. Ketidakpastian meningkat seiring konflik berpotensi meluas dan memicu tekanan pada harga energi global. Perbandingan dengan invasi Rusia ke Ukraina menunjukkan pola serupa pada pasar minyak. Sebelum invasi 2022, harga minyak melonjak dari US$90 ke sekitar US$120 per barel, sementara saat ini harga minyak juga telah melonjak ke atas US$110 per barel, dengan kenaikannya secara persentase saat ini jauh lebih tinggi. Pasar saham global di luar Amerika Serikat juga menunjukkan reaksi mirip dengan periode awal perang Ukraina. Indeks saham global di luar AS milik MSCI All Country World ex-US Index turun sekitar 6,6% dari level tertinggi sebelum serangan ke Iran dimulai. Meski demikian, beberapa pola krisis klasik belum muncul di pasar keuangan. Investor belum berbondong-bondong mencari aset aman seperti obligasi pemerintah, emas, atau mata uang safe haven seperti Swiss franc. Kepala strategi investasi AS di J.P. Morgan Private Bank, Jacob Manoukian, mengatakan pasar mulai menyadari konflik tersebut berpotensi berdampak pada ekonomi global. Namun jarak geografis membuat ketegangan ini belum terasa intens seperti krisis besar sebelumnya bagi investor. Dari sisi ekonomi, lonjakan harga minyak menciptakan pergeseran antara negara yang diuntungkan dan dirugikan. Negara eksportir energi di luar Timur Tengah mendapat manfaat, sementara negara importir besar seperti Eropa, Jepang, dan Korea Selatan justru menghadapi tekanan biaya energi yang lebih tinggi. Sebaliknya, Amerika Serikat relatif diuntungkan karena merupakan produsen sekaligus eksportir minyak terbesar di dunia. Serangan terhadap Iran serta gangguan terhadap infrastruktur dan jalur pengiriman minyak di kawasan berpotensi melemahkan pesaing global produsen energi AS. Kondisi ini juga menjelaskan penguatan dolar AS terhadap mata uang lain. Mata uang seperti euro dan yen mengalami pelemahan, sementara pasar saham AS menunjukkan penurunan yang lebih terbatas dibandingkan bursa global lainnya. Dari sisi pasar keuangan, aset yang sebelumnya mencatat kenaikan tajam sepanjang tahun justru mengalami penurunan paling besar selama sepekan terakhir. Sebaliknya, sejumlah aset yang sebelumnya berkinerja buruk justru mencatat penguatan meski pasar secara keseluruhan tertekan. Fenomena ini terlihat pada tingkat negara maupun sektor saham. Bursa Korea Selatan yang sebelumnya melonjak hingga sekitar 50% sebelum perang justru mencatat penurunan paling tajam, diikuti Jepang, Inggris, dan Eropa. Di dalam pasar saham, pola serupa juga terjadi antar sektor. Saham perangkat lunak yang sebelumnya tertekan akibat kekhawatiran persaingan kecerdasan buatan justru menguat dalam sepekan terakhir, sementara saham semikonduktor yang sempat melonjak tinggi mengalami penurunan tajam. Hampir setengah saham dalam indeks Nasdaq-100 mencatat kenaikan selama sepekan terakhir. Menariknya, hampir seluruh saham yang naik tersebut sebelumnya mengalami penurunan sejak awal tahun sebelum konflik dimulai. Data dari Goldman Sachs juga menunjukkan bahwa indeks saham favorit hedge fund turun 4,7% sepanjang pekan, jauh lebih dalam dibandingkan pasar secara keseluruhan. Sementara itu, indeks saham yang paling banyak diposisikan sebagai short oleh hedge fund hanya turun sekitar 1,1%. Pergerakan ini menunjukkan hedge fund mulai menutup sebagian posisi untuk mengurangi penggunaan utang atau leverage. Namun penurunannya belum cukup besar untuk menunjukkan aksi deleveraging panik di pasar. Jika perang berlarut-larut dan harga minyak terus naik, tekanan pada aset berisiko diperkirakan akan berlanjut. Pada tahap tertentu, kepanikan pasar kemungkinan akan mendorong investor beralih ke aset aman seperti obligasi pemerintah AS yang dapat menekan imbal hasilnya. Sejarah pasar menunjukkan bahwa pada akhirnya investor sering melihat periode konflik sebagai peluang membeli saham ketika harga jatuh. Pepatah lama yang sering dikaitkan dengan bankir legendaris Nathan Mayer Rothschild menggambarkan gagasan tersebut, yakni membeli ketika pasar diliputi kepanikan akibat perang. Namun tantangan terbesar adalah menentukan waktu yang tepat untuk masuk. Investor perlu memperhatikan tanda-tanda apakah kekacauan pasar masih akan memburuk sebelum akhirnya mencapai titik balik. (fsd/fsd) Add as a preferred source on Google [Gambas:Video CNBC] Next Article Investor Sorot China-Jepang, Bursa Asia Mayoritas Kompak Turun Tags #konflik iran-as #pasar saham #investor #harga minyak #ketidakpastian ekonomi #stagflasi #aset aman #hedge fund #dolar as #geopolitik Related Articles IHSG Pangkas Koreksi, Sesi 1 Ditutup Turun 1,6% MARKET Bursa Asia Ambruk Berjamaah Kala Konflik AS-Iran Makin Memanas MARKET Investor Waswas, Bursa Asia Pasifik Dibuka Beragam MARKET Perundingan Damai Rusia-Ukraina Lamban, Harga Minyak Memanas MARKET Recommendation SHOW MORE Most Popular Features Loading… part of Add as a preferred source on Google Connect With Us ©2026 CNBC Indonesia, A Transmedia Company Kategori Market My Money News Tech Lifestyle Sharia Entrepreneur Cuap Cuap Cuan Research Opinion Photo Video Infographic Berbuatbaik.id Layanan berbuatbaik.id Pasangmata Adsmart detikEvent Trans Snow World Trans Studio Informasi Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Karir Disclaimer CNBC Indonesia My Investment Jaringan Media CNN Indonesia CNBC Indonesia Haibunda Insertlive Beautynesia Female Daily CXO Media
Related Posts
Kasus Pandji Pragiwaksono, Menteri Pigai Usul Polisi Pakai Restorative Justice
- CSNBro
- 28 Februari 2026
- 0
Kasus Pandji Pragiwaksono, Menteri Pigai Usul Polisi Pakai Restorative Justice
Forkopimda Garut Gelar Safari Ramadhan di Samarang, Pererat Silaturahmi dan Sampaikan Pesan Kamtibmas
- CSNBro
- 26 Februari 2026
- 0
Forkopimda Garut Gelar Safari Ramadhan di Samarang, Pererat Silaturahmi dan Sampaikan Pesan Kamtibmas
MNC Peduli Dukung PMI Jakpus Gelar Buka Puasa Bersama, Santuni 600 Anak Yatim dan Duafa
- CSNBro
- 6 Maret 2026
- 0
MNC Peduli Dukung PMI Jakpus Gelar Buka Puasa Bersama, Santuni 600 Anak Yatim dan Duafa
