Dunia Tiba-Tiba Dilanda Banjir Kentang, Apa yang Terjadi? login HOME MARKET MY MONEY NEWS TECH LIFESTYLE SHARIA ENTREPRENEUR CUAP CUAP CUAN CNBC TV Search Search Search History Loading… RESEARCH OPINION PHOTO VIDEO INFOGRAPHIC BERBUATBAIK.ID MARKET DATA MAJOR INDEXES INDO-FX USD-FX COMMODITIES BONDS CNBC Indonesia Research Berita Research Dunia Tiba-Tiba Dilanda Banjir Kentang, Apa yang Terjadi? Comment SHARE url telah tercopy Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia 17 February 2026 12:30 Foto: Pedagang kentang di Pasar Induk Keramat Jati, Jakarta, Rabu, (2/2/2022) (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Jakarta, CNBC Indonesia- Berlin sedang menghadapi apa yang dijuluki Kartoffel-Flut atau banjir kentang. Melansir The Economist, Jerman mencatat panen kentang terbesar dalam satu generasi. Hasil tahun lalu 17% di atas rata-rata jangka panjang. Belgia, Prancis, dan Belanda mengalami lonjakan serupa. Di satu lahan dekat Leipzig, surplus mencapai 4.000 ton. Jumlahnya terlalu besar untuk diserap pasar. Faktanya sederhana, produksi melonjak tajam. Kementerian Pertanian Jerman memperkirakan panen 2025 mencapai 13,4 juta ton, naik 5,3% dari tahun sebelumnya. Melansir laporan yang dikutip Deutsche Welle, ini menjadi capaian tertinggi dalam 25 tahun. Harga pun tertekan. Di Agustus, harga kentang di supermarket Jerman 15% lebih rendah dibanding tahun lalu. Baca: 5 Makanan Asal China yang Kini Halal Karena Hasil “Kawin Campur” Ketika pasokan melebihi kapasitas serap pasar, mekanismenya jelas. Harga turun, margin petani tergerus, dan distribusi menjadi persoalan logistik. Melansir dari The Guardian, sekitar 200 titik pembagian kentang gratis bermunculan di Berlin. Bank makanan Berliner Tafel menyerap puluhan ton. Sekolah, tempat penampungan tunawisma, hingga kebun binatang ikut mengambil bagian. Dua truk bahkan dikirim ke Ukraina. Langkah distribusi massal ini lahir dari satu transaksi yang gagal. Seorang petani di dekat Leipzig kehilangan pembeli dalam jumlah besar di menit terakhir. Daripada membiarkan hasil panen membusuk atau dialihkan menjadi biogas, ia memilih membuka akses gratis. Operasi yang dinamai “4000 Tonnes” kemudian meluas, dibantu media lokal dan organisasi nirlaba. Kentang memang komoditas yang relatif aman saat terjadi lonjakan produksi. Umbi ini tahan simpan dan padat kalori. Lebih dari satu miliar orang di lebih dari 150 negara mengandalkan kentang sebagai sumber pangan. Dalam sejarah Eropa, kegagalan panen kentang pernah memicu bencana kelaparan besar di Irlandia pada abad ke-19. Di Prusia, Frederick II bahkan pernah mengeluarkan dekret wajib tanam kentang demi mencegah krisis pangan. Baca: Tahun Kuda Api 2026: Asal Usul, Makna, Prediksi & Shio Paling Hoki Namun euforia panen besar tidak merata dirasakan semua pihak. Sejumlah petani Jerman mengeluhkan pasar yang semakin jenuh. Harga yang terlalu rendah mempersempit ruang negosiasi. Kelompok lingkungan menilai pola ini mengingatkan pada era surplus pertanian Eropa dekade 1970-an, saat insentif produksi memicu “gunung mentega” dan “danau susu”. Kontras terlihat di Belarusia. Menurut laporan yang dikutip Belsat, pada 2024 harga kentang di negara tersebut melonjak 31%. Luas lahan tanam menyusut tajam dalam dua dekade terakhir, dari 467 ribu hektare pada 2005 menjadi 141 ribu hektare pada 2024. Saat Jerman kebanjiran, Belarus justru menghadapi kekurangan pasokan dan tekanan harga. Apa implikasinya bagi pasar global? Pertama, lonjakan produksi di Eropa berpotensi menekan harga ekspor produk olahan seperti kentang beku dan keripik. Kedua, volatilitas makin terlihat sebagai pola baru, satu musim surplus, musim berikutnya defisit. Tahun lalu yang berlimpah adalah hop. Tahun depan, pelaku pasar memperkirakan susu bisa mengalami siklus serupa. Bagi konsumen Eropa, tahun ini adalah tahun murah untuk kentang. Bagi petani, ini musim penuh kalkulasi ulang. Dunia pangan bergerak dalam siklus yang makin tajam. Ketika satu wilayah panen berlimpah, wilayah lain bisa mengalami kekosongan. CNBC Indonesia Research (emb/luc) Tags #banjir kentang #produksi kentang #pasar pangan #harga kentang #surplus pertanian #distribusi pangan #belarus #jerman #volatilitas pasar #komoditas pangan Related Articles Harga Tembus US$5.100, Ini 10 Penguasa Emas Terbesar Dunia RESEARCH Jangan Iri, Ini Daftar Negara Dengan Cuti Berbayar Terbanyak RESEARCH Ternyata Ini Bumbu Dapur & Sayuran Paling Menguras Kantong, Bener Bun? RESEARCH Bikin Iri! Gaji UMP di Negara Kaya: Puluhan Juta di Jerman-Prancis RESEARCH Most Popular Recommendation SHOW MORE part of Connect With Us ©2026 CNBC Indonesia, A Transmedia Company Kategori Market My Money News Tech Lifestyle Sharia Entrepreneur Cuap Cuap Cuan Research Opinion Photo Video Infographic Berbuatbaik.id Layanan berbuatbaik.id Pasangmata Adsmart detikEvent Trans Snow World Trans Studio Informasi Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Karir Disclaimer CNBC Indonesia My Investment Jaringan Media CNN Indonesia CNBC Indonesia Haibunda Insertlive Beautynesia Female Daily CXO Media
Related Posts
Libur Panjang Imlek, Lalu Lintas Tol Trans Jawa Arah Timur Naik 33 Persen
- CSNBro
- 16 Februari 2026
- 0
Libur Panjang Imlek, Lalu Lintas Tol Trans Jawa Arah Timur Naik 33 Persen
Comeback Ronaldo di Liga Arab Saudi: Gol Cepat Bawa Al Nassr Kalahkan Al Fateh
- CSNBro
- 15 Februari 2026
- 0
Comeback Ronaldo di Liga Arab Saudi: Gol Cepat Bawa Al Nassr Kalahkan Al Fateh
Deretan Orang Terkaya di Dunia 2026, Elon Musk Masih di Pucuk!
- CSNBro
- 15 Februari 2026
- 0
Deretan Orang Terkaya di Dunia 2026, Elon Musk Masih di Pucuk!
