Diam-diam India Lepas Ketergantungan dari China

Diam-diam India Lepas Ketergantungan dari China login HOME MARKET MY MONEY NEWS TECH LIFESTYLE SHARIA ENTREPRENEUR CUAP CUAP CUAN CNBC TV Search Search Search History Loading… RESEARCH OPINION PHOTO VIDEO INFOGRAPHIC BERBUATBAIK.ID MARKET DATA MAJOR INDEXES INDO-FX USD-FX COMMODITIES BONDS CNBC Indonesia News Berita Diam-diam India Lepas Ketergantungan dari China Comment SHARE url telah tercopy Thea Arbar,  CNBC Indonesia 18 February 2026 21:50 Foto: Perdana Menteri India Narendra Modi berjabat tangan dengan Presiden China Xi Jinping selama pertemuan di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Tianjin, China, 31 Agustus 2025. (via REUTERS/PRESS INFORMATION BUREAU) Jakarta, CNBC Indonesia – India kian agresif mengolah limbah elektronik menjadi sumber mineral strategis untuk mengurangi ketergantungan pada China. Langkah ini menjadi bagian dari strategi New Delhi mengamankan pasokan bahan baku penting bagi industri teknologi tinggi, kendaraan listrik, hingga sektor pertahanan. Mengutip AFP, Rabu (18/2/2025), upaya tersebut terlihat di sebuah pabrik daur ulang di negara bagian Haryana. Di lokasi itu, ratusan baterai bekas dihancurkan dan diekstraksi menjadi mineral penting seperti litium, kobalt, dan nikel, yakni komoditas krusial bagi ponsel pintar, pusat data, hingga jet tempur. Baca: Banyak Negara Terapkan Aturan Indonesia, Dunia Kompak Berubah Di fasilitas Exigo Recycling, baterai skuter listrik diolah menjadi bubuk hitam pekat, lalu melalui proses pelarutan, penyaringan, dan penguapan hingga berubah menjadi bubuk putih halus berupa litium. “Ini adalah emas putih,” kata ilmuwan utama fasilitas tersebut sambil menunjukkan hasil akhir proses daur ulang. Kekhawatiran global terhadap dominasi China dalam rantai pasok mineral kritis mendorong India beralih ke sumber yang selama ini terabaikan, yakni limbah elektronik. Permintaan mineral strategis diperkirakan terus melonjak, sementara penambangan domestik India diproyeksikan belum menghasilkan output signifikan setidaknya selama satu dekade. Dalam kondisi ini, limbah elektronik dipandang sebagai solusi jangka menengah. Baterai bekas mengandung litium, kobalt, dan nikel. Layar LED menyimpan germanium, papan sirkuit mengandung platinum dan paladium, sementara harddisk menyimpan unsur tanah jarang. Karena itu, limbah elektronik kerap disebut sebagai “tambang emas” mineral penting. Data resmi menunjukkan India menghasilkan hampir 1,5 juta ton limbah elektronik sepanjang 2024. Namun, para ahli memperkirakan jumlah sebenarnya bisa mencapai dua kali lipat dari angka tersebut. Baca: Bayar Utang Whoosh Jadi Pakai APBN? Ini Jawab Purbaya! Perkiraan industri menyebutkan aktivitas urban mining atau pemulihan mineral dari limbah elektronik berpotensi bernilai hingga US$6 miliar atau sekitar Rp97 triliun per tahun. Meski belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan domestik, sektor ini dinilai dapat membantu meredam guncangan impor sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok India. Namun, sebagian besar limbah elektronik masih dibongkar di bengkel-bengkel informal. Praktik ini umumnya hanya mengekstraksi logam bernilai cepat seperti tembaga dan aluminium, sementara mineral penting lainnya tidak dimanfaatkan secara optimal. Sebagai informasi, kapasitas daur ulang formal India juga masih tertinggal dibandingkan China dan Uni Eropa yang telah berinvestasi besar dalam teknologi pemulihan canggih serta sistem ketertelusuran. India saat ini tercatat memiliki ketergantungan impor 100% untuk mineral penting utama seperti litium, kobalt, dan nikel. Untuk menutup celah tersebut, pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi menyetujui program senilai US$170 juta atau sekitar Rp2,75 triliun guna memperluas daur ulang mineral strategis. Program ini didukung kebijakan Extended Producer Responsibility (EPR) yang mewajibkan produsen mengumpulkan dan menyalurkan limbah elektronik ke pendaur ulang resmi. “EPR telah bertindak sebagai katalis utama dalam meningkatkan skala industri daur ulang,” ujar Raman Singh, Direktur Pelaksana Exigo Recycling. Baca: Investasi Jumbo di AI, Adani Group Bakal Guyur Duit Sampai Rp1.600 T Meski demikian, tantangan masih besar. “Sebelum EPR diterapkan sepenuhnya, 99% limbah elektronik didaur ulang secara informal. Sekitar 60% kini sudah beralih ke sektor formal,” kata Nitin Gupta dari Attero Recycling. Catatan Program Pembangunan PBB menunjukkan lebih dari 80% limbah elektronik India masih diproses secara informal, dengan risiko kesehatan dan lingkungan akibat pembakaran terbuka serta rendaman asam. “Sektor informal masih menjadi tulang punggung pengumpulan dan pemilahan limbah,” kata Sandip Chatterjee, penasihat senior Sustainable Electronics Recycling International. Sejumlah inisiatif kini berupaya mengintegrasikan pekerja informal ke rantai pasok formal melalui pelatihan dan fasilitas kerja yang lebih aman. Langkah ini dinilai krusial agar India tidak hanya mengurangi ketergantungan pada China, tetapi juga memaksimalkan nilai ekonomi dari limbah elektronik yang selama ini dipandang sekadar sampah. (tfa/mij) Add as a preferred source on Google [Gambas:Video CNBC] Next Article Selama Ini Terbuang Sia-Sia, Limbah Timah Bernilai Fantastis! Tags #daur ulang limbah #limbah elektronik #ketergantungan china #mineral strategis #urban mining #industri daur ulang #kesehatan lingkungan #epr #teknologi hijau #ekonomi sirkular Related Articles Jangan Kaget! RI Simpan ‘Harta Karun’ Langka & Strategis di 8 Blok NEWS RI Mau Garap ‘Harta Karun Langka’, Dunia Ogah Bocorkan Teknologinya NEWS AS Dituding Tenggelamkan Asia, Kirim ‘Tsunami’ Limbah Beracun NEWS Geramnya RI, Limbah Beracun-Berbahaya Masuk Batam Dibuang Balik ke AS NEWS Recommendation SHOW MORE Most Popular Features Loading… part of Add as a preferred source on Google Connect With Us ©2026 CNBC Indonesia, A Transmedia Company Kategori Market My Money News Tech Lifestyle Sharia Entrepreneur Cuap Cuap Cuan Research Opinion Photo Video Infographic Berbuatbaik.id Layanan berbuatbaik.id Pasangmata Adsmart detikEvent Trans Snow World Trans Studio Informasi Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Karir Disclaimer CNBC Indonesia My Investment Jaringan Media CNN Indonesia CNBC Indonesia Haibunda Insertlive Beautynesia Female Daily CXO Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *