Dari Washington ke Kilang: Ujian Nyata Diplomasi Energi Kita

Dari Washington ke Kilang: Ujian Nyata Diplomasi Energi Kita login HOME MARKET MY MONEY NEWS TECH LIFESTYLE SHARIA ENTREPRENEUR CUAP CUAP CUAN CNBC TV Search Search Search History Loading… RESEARCH OPINION PHOTO VIDEO INFOGRAPHIC BERBUATBAIK.ID CNBC Indonesia Opini Berita Opini Dari Washington ke Kilang: Ujian Nyata Diplomasi Energi Kita Comment SHARE url telah tercopy Dr. Anggawira,  CNBC Indonesia 21 February 2026 04:57 Dr. Anggawira Dr. Anggawira merupakan pemimpin di dunia bisnis dan berbagai organisasi. Ia dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal HIPMI 2022-2025 dan Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi Mineral & Batubara (ASPEBINDO). Saat ini, Anggawira menjabat sebagai Komisaris PT. Bum.. Selengkapnya Foto: Bendera Amerika Serikat. (Photo by Win McNamee/Getty Images) Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Amerika Serikat pada 20 Februari 2026 tidak sekadar memperlihatkan wajah diplomasi Indonesia di panggung global. Ia menandai satu fase baru: ketika diplomasi energi menjadi instrumen transaksi strategis-bukan hanya simbol kerja sama, tetapi alat tukar kepentingan nasional dalam arsitektur ekonomi dan keamanan global yang sedang berubah. Baca: Seskab Teddy Ungkap Arahan Prabowo usai Teken Perjanjian Dagang RI-AS Kesepakatan ekonomi senilai USD 38,4 miliar dan pemberian tarif 0% untuk 1.819 produk Indonesia memang menjadi sorotan utama. Namun, bagi sektor energi dan industri, bagian paling menentukan dari kunjungan ini adalah masuknya nikel Indonesia ke dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik Amerika Serikat. Untuk pertama kalinya, Indonesia tidak hanya menjual bahan baku bagi transisi energi global-kita diundang masuk ke dalam sistem industrinya.Tentu, setiap akses datang dengan harga. Komitmen impor migas dari Amerika Serikat yang diperkirakan mencapai Rp253 triliun per tahun menjadi bagian dari pertukaran kepentingan tersebut. Di sinilah diplomasi energi Presiden Prabowo harus diuji dalam kerangka Asta Cita, khususnya dalam agenda ketahanan energi nasional: apakah kesepakatan ini akan memperkuat fondasi produksi dan industri domestik, atau justru memperdalam ketergantungan jangka panjang?Hari ini, Indonesia masih mengonsumsi sekitar 1,6 juta barel minyak per hari, sementara lifting domestik hanya berada di kisaran 580 ribu barel per hari hingga 610 ribu barel per hari. Artinya, lebih dari 60% kebutuhan energi minyak kita masih dipenuhi melalui impor, dengan defisit neraca migas yang mencapai USD 15 miliar hingga USD 18 miliar per tahun. Sementara itu, lebih dari 70% lapangan migas nasional telah memasuki fase mature, dengan tingkat penurunan produksi alami mencapai 10-15% per tahun.Kerja sama Pertamina dengan Halliburton dalam penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) menjadi langkah awal untuk menahan penurunan tersebut. Namun, meningkatkan lifting saja tidak cukup. Ketahanan energi tidak akan tercapai jika kita tetap mengekspor gas mentah, mengimpor LPG hingga 6,5 juta ton per tahun, dan belum mengintegrasikan produksi domestik dengan industri petrokimia dan manufaktur berbasis energi.Di sinilah hilirisasi menjadi ujian nyata. Pengalaman sektor nikel menunjukkan bahwa kebijakan larangan ekspor bijih mentah sejak 2020 mampu meningkatkan nilai ekspor produk turunannya dari sekitar USD 3 miliar menjadi lebih dari USD 33 miliar pada 2024. Jika pendekatan yang sama diterapkan pada sektor energi-khususnya gas yang saat ini diproduksi sekitar 5,3-5,5 BSCFD-Indonesia berpotensi mengurangi impor energi sekaligus memperkuat basis industri nasional.Peran Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjadi penting dalam memastikan bahwa setiap investasi hulu terhubung langsung dengan pembangunan kapasitas hilir. Target produksi minyak 1 juta barel per hari dan gas 12 BSCFD pada 2030 hanya akan bermakna jika diiringi dengan pembangunan kilang, pabrik petrokimia, dan ekosistem manufaktur domestik.Namun, kita tidak boleh abai terhadap risiko. Tarif nol persen dapat membuka peluang ekspor manufaktur, tetapi juga berpotensi menekan sektor domestik jika impor tidak dikelola dengan hati-hati. Impor migas dalam skala besar dapat menjamin pasokan jangka pendek, tetapi tanpa hilirisasi yang paralel, defisit neraca energi bisa semakin melebar.Diplomasi dua kaki Indonesia antara Washington dan Beijing juga harus dijaga dengan presisi. Masuk ke rantai pasok energi masa depan Amerika Serikat tidak boleh membuat Indonesia kehilangan fleksibilitas dalam menjaga kemitraan strategis dengan mitra global lainnya.Bagi dunia usaha nasional, khususnya anggota HIPMI, momentum ini membuka ruang partisipasi dalam rantai pasok hilirisasi energi melalui pembiayaan usaha menengah di kisaran Rp5 miliar hingga Rp 50 miliar. Tanpa keterlibatan aktif sektor swasta, ketahanan energi akan tetap menjadi proyek negara, bukan gerakan ekonomi nasional.Diplomasi energi telah membuka pintu. Hilirisasi akan menentukan apakah kita benar-benar masuk ke dalam rumah industri global-atau hanya berdiri di ambang pintunya. Ketahanan energi dalam kerangka Asta Cita tidak ditentukan oleh kesepakatan di Washington, tetapi oleh keberanian mengeksekusinya di dalam negeri. (miq/miq) Add as a preferred source on Google Tags #diplomasi energi #prabowo subianto #ketahanan energi #hilirisasi #nikel #investasi energi #industri petrokimia #impor migas #rantai pasok energi #indonesia Related Opinion Reposisi Batubara, Dari Komoditas Menjadi Aset Strategis Nasional Di tengah transisi energi global, batubara harus direposisi sebagai aset str… Oleh Feiral Rizky Batubara National Resource Management Model untuk Kedaulatan Energi Indonesia National Resource Management Model menawarkan strategi pengelolaan sumber da… Oleh Feiral Rizky Batubara Membangun Doktrin Ketahanan Energi RI untuk Era Geopolitik Baru Isu ketahanan energi di Indonesia semakin penting. Doktrin ketahanan energi … Oleh Feiral Rizky Batubara Keadilan Energi: Refleksi 1 Tahun Kebijakan Pemerintahan Prabowo Satu tahun pemerintahan Prabowo menjadi momentum penting untuk meninjau arah… Oleh Feiral Rizky Batubara Recommendation SHOW MORE part of Add as a preferred source on Google Connect With Us ©2026 CNBC Indonesia, A Transmedia Company Kategori Market My Money News Tech Lifestyle Sharia Entrepreneur Cuap Cuap Cuan Research Opinion Photo Video Infographic Berbuatbaik.id Layanan berbuatbaik.id Pasangmata Adsmart detikEvent Trans Snow World Trans Studio Informasi Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Karir Disclaimer CNBC Indonesia My Investment Jaringan Media CNN Indonesia CNBC Indonesia Haibunda Insertlive Beautynesia Female Daily CXO Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *