Harga Minyak Anjlok 10%, Investor Mulai Lelah dengan Manuver Trump login HOME MARKET MY MONEY NEWS TECH LIFESTYLE SHARIA ENTREPRENEUR CUAP CUAP CUAN CNBC TV Search Search Search History Loading… RESEARCH OPINION PHOTO VIDEO INFOGRAPHIC BERBUATBAIK.ID MARKET DATA MAJOR INDEXES INDO-FX USD-FX COMMODITIES BONDS CNBC Indonesia Research Berita Research Harga Minyak Anjlok 10%, Investor Mulai Lelah dengan Manuver Trump Comment SHARE url telah tercopy mae, CNBC Indonesia 24 March 2026 08:00 Foto: Reuters Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak mentah dunia mendingin setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda serangan yang direncanakan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari dan menyatakan bahwa pembicaraan yang produktif dengan negara tersebut sedang berlangsung. Merujuk Refinitiv, harga minyak brent pada perdagangan Senin (23/3/2026) ditutup di posisi US$ 99,94 per barel atau ambruk 10,92%. Harga penutupan kemarin sekaligus mengakhiri level harga minyak brent di US$ 100 yang sudah bertahan tujuh hari perdagangan atau sejak 12 Maret 2026. Sementara itu, harga minyak WTI pada perdagangan Senin (23/3/2026) ditutup di US$ 88,13 per barel atau jatuh 10,36%. Harga ini menjadi yang terendah sejak 11Maret 2026. Kendati melemah kemarin, harga emas menguat lagi pada hari ini. Pada Selasa (24/3/2026) pukul 07.25 WIB, harga minyak brent melesat 1,02% ke US$ 100,95 per barel sementara harga minyak WTI terbang 2,2% ke US$ 90,07 per barel. Harga minyak ambruk setelah pengumuman Trump. Keputusan untuk menunda serangan ini dipandang sebagai upaya untuk menstabilkan harga minyak. Trump bahkan mengatakan harga minyak akan jatuh seperti batu begitu kesepakatan tercapai. Namun, pihak Teheran membantah bahwa ada negosiasi yang sedang berlangsung, sementara Israel tetap melanjutkan serangannya terhadap Iran. Saat ini, pasar mulai memperhitungkan kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz, setelah konflik secara efektif menutup jalur vital global tersebut. Sekitar 20% pasokan minyak dunia biasanya melewati jalur ini, sehingga penutupan tersebut memaksa produsen di Timur Tengah memangkas produksi secara signifikan. Iran sendiri masih memegang kendali kuat atas jalur sempit tersebut, dengan hanya sejumlah terbatas kapal yang dapat melintas, tergantung pada aliansi yang ada. Baca: Emas Tak Lagi Aman? Perang Iran Mengubah Segalanya, Investor Terjebak “Belum jelas sejauh mana pembicaraan di jalur belakang (back-channel) telah berkembang atau apakah IRGC berada dalam posisi ingin menyelesaikan konflik saat ini, mengingat mereka masih memegang kendali kuat atas Selat Hormuz,” tulis analis RBC Capital Markets LLC, termasuk Helima Croft, merujuk pada Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dikutip dari Reuters. “Kapal, bukan pernyataan, kemungkinan besar akan menjadi penentu utama bagi pasar fisik.” Imbuhnya, Pasar minyak saat ini mulai memperhitungkan kemungkinan pembukaan kembali selat tersebut dalam waktu dekat. Investor disebut sangat fokus pada potensi dimulainya kembali aktivitas di jalur tersebut. Sejumlah kecil kapal telah berhasil keluar dari Teluk Persia dalam beberapa hari terakhir, meskipun sebagian besar lalu lintas di jalur vital tersebut masih praktis terhenti. Tanker raksasa pertama yang mengangkut minyak mentah Irak melalui selat sejak hampir ditutup juga telah terpantau. Baca: Harga Minyak Adem Usai Melonjak, Tapi Dunia Dibayangi Ancaman AS-Iran Pada akhir pekan lalu, Trump sempat mengancam akan membombardir infrastruktur energi Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya dalam waktu 48 jam. Keputusannya untuk menahan serangan dipandang sebagai upaya mengendalikan harga minyak oleh pihak yang mengetahui jalannya diplomasi, dan Trump pada Senin mengakui kaitan tersebut. Perubahan pesan yang berulang dari presiden AS telah membuat investor kelelahan, menekan volume perdagangan karena pelaku pasar harus menyaring arus berita yang hampir terus-menerus dan terkadang saling bertentangan. “Hasil negosiasi mungkin menjadi pilihan terbaik dari serangkaian opsi buruk yang dimiliki Presiden Trump,” kata Will Todman, peneliti senior Program Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies. Namun, Iran akan memasuki pembicaraan ini dengan skeptisisme tinggi, khawatir bahwa Trump hanya mencoba mengulur waktu hingga lebih banyak aset militer tiba di kawasan tersebut. CNBC INDONESIA RESEARCH[email protected] (mae/mae) Add as a preferred source on Google Tags #harga minyak #pasar minyak #donald trump #selat hormuz #harga brent #harga wti #konflik timur tengah #energi global #negosiasi internasional #iran Related Articles Harga Minyak Mulai Mendingin, Tapi Ada Ancaman Baru yang Mengintai RESEARCH Ngeri! Ini Krisis Minyak Dunia Paling Mengguncang Sepanjang Sejarah RESEARCH Jejak Krisis Minyak Dunia Sepanjang Sejarah, Mana Paling Mengguncang? RESEARCH Harga Minyak Mendidih, ETF Energi XLE Tembus Level Tertinggi 18 Tahun RESEARCH Most Popular Recommendation SHOW MORE part of Add as a preferred source on Google Connect With Us ©2026 CNBC Indonesia, A Transmedia Company Kategori Market My Money News Tech Lifestyle Sharia Entrepreneur Cuap Cuap Cuan Research Opinion Photo Video Infographic Berbuatbaik.id Layanan berbuatbaik.id Pasangmata Adsmart detikEvent Trans Snow World Trans Studio Informasi Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Karir Disclaimer CNBC Indonesia My Investment Jaringan Media CNN Indonesia CNBC Indonesia Haibunda Insertlive Beautynesia Female Daily CXO Media
Related Posts
Pernyataan Lengkap Ruce Nuenda usai Viral gegara Kena Campak dan Berkeliaran
- CSNBro
- 4 Maret 2026
- 0
Pernyataan Lengkap Ruce Nuenda usai Viral gegara Kena Campak dan Berkeliaran
Pilot Pesawat Pelita Air Jatuh di Nunukan Kaltara Hendrick Lodewyck Dimakamkan di Bogor
- CSNBro
- 20 Februari 2026
- 0
Pilot Pesawat Pelita Air Jatuh di Nunukan Kaltara Hendrick Lodewyck Dimakamkan di Bogor
Potret Syarifah Suraidah, Istri Gubernur Kaltim yang Disorot Publik
- CSNBro
- 28 Februari 2026
- 0
Potret Syarifah Suraidah, Istri Gubernur Kaltim yang Disorot Publik
