Utang Amerika Kini Tembus Rp661.000 Triliun, Perang Iran Bikin Boncos login HOME MARKET MY MONEY NEWS TECH LIFESTYLE SHARIA ENTREPRENEUR CUAP CUAP CUAN CNBC TV Search Search Search History Loading… RESEARCH OPINION PHOTO VIDEO INFOGRAPHIC BERBUATBAIK.ID MARKET DATA MAJOR INDEXES INDO-FX USD-FX COMMODITIES BONDS CNBC Indonesia Research Berita Research Utang Amerika Kini Tembus Rp661.000 Triliun, Perang Iran Bikin Boncos Comment SHARE url telah tercopy Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia 22 March 2026 18:05 Foto: Infografis/Doyan Ngutang, Amerika Harus Bayar Bunga Rp 16.800 T/Aristya Rahadian Jakarta, CNBC Indonesia – Utang nasional Amerika Serikat secara resmi telah melewati batas US$ 39 triliun atau Rp 661.830 triliun (US$1= Rp 16.970) pada pekan ini. Angka yang dipublikasikan oleh Bureau of the Fiscal Service tersebut menyoroti besarnya tekanan terhadap prioritas anggaran pemerintahan saat ini, mulai dari pemotongan pajak, peningkatan anggaran pertahanan, hingga penanganan utang itu sendiri. Pencapaian rekor utang ini terjadi bersamaan dengan kekhawatiran publik atas terus naiknya biaya konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda usai. Beban Finansial dari Perang Iran dan Dampak Sektoral Perang di Iran yang telah memasuki hari kedua puluh memberikan tekanan tambahan yang signifikan terhadap keuangan negara. Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS, Kevin Hassett, menyatakan bahwa pemerintah telah merealisasikan pengeluaran sebesar US$ 12 miliar untuk membiayai konflik tersebut. Angka ini diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan konfirmasi dari Menteri Pertahanan Pete Hegseth bahwa Pentagon telah mengajukan permohonan dana tambahan senilai US$ 200 miliar kepada Gedung Putih, meskipun besaran tersebut masih dapat bergerak secara dinamis. Riset dari TIME menunjukkan bahwa dana US$ 12 miliar yang telah dihabiskan tersebut secara teoretis setara dengan biaya perawatan kesehatan untuk 1,3 miliar populasi. Baca: Doyan Ngutang, Amerika Harus Bayar Bunga Rp 16.800 Triliun Eskalasi geopolitik ini juga berdampak langsung pada daya beli konsumen domestik akibat terganggunya jalur distribusi minyak dan gas di Selat Hormuz. Harga minyak mentah telah menembus angka US$ 100 per barel, yang secara langsung memicu kenaikan harga bahan bakar di AS. Lonjakan biaya energi ini turut memaksa maskapai penerbangan komersial, seperti Qantas, untuk segera menyesuaikan dan menaikkan tarif tiket pesawat. Di samping itu, rantai pasok global yang terganggu diperkirakan akan memicu kenaikan harga pupuk, yang pada akhirnya akan merambat pada pembengkakan tagihan belanja kebutuhan pokok masyarakat dalam beberapa bulan ke depan. Foto: Penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett berbicara di depan kamera TV di Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 13 November 2025. (REUTERS/Kevin Lamarque) Janji Kampanye, Tarif, dan Realitas Defisit Anggaran Presiden Donald Trump telah berulang kali menyuarakan janjinya untuk menekan angka utang nasional sejak kampanye presiden pertamanya pada tahun 2015. Sebelum masa jabatan pertamanya, ia bahkan mengklaim dapat melunasi seluruh utang yang saat itu berada di kisaran US$ 19 triliun dalam kurun waktu delapan tahun melalui negosiasi ulang kesepakatan perdagangan global. Lebih lanjut, konsep kebijakan ekonomi yang diusungnya mencakup penerapan tarif perdagangan untuk negara-negara mitra guna menambah kas negara dan melunasi utang. Pada Hari Kemerdekaan tahun lalu, pemerintah juga telah mengesahkan undang-undang yang diklaim oleh Gedung Putih akan mampu memangkas utang hingga menyentuh level 94% dari Produk Domestik Bruto. Baca: Perang Iran bisa Menggerus Kekuatan Militer AS, Begini Analisisnya Namun, rencana strategis menggunakan pendapatan tarif ini menghadapi kendala krusial setelah Mahkamah Agung pada bulan Februari lalu memutuskan bahwa sebagian besar kebijakan tarif tersebut melanggar hukum, sebuah keputusan yang dinilai sangat mengecewakan oleh Presiden. Sejak pelantikannya tahun lalu, utang nasional secara aktual tetap merangkak naik sekitar US$ 2,8 triliun. Meskipun demikian, Juru Bicara Gedung Putih Kush Desai menggarisbawahi bahwa terdapat penurunan defisit federal pada tahun fiskal 2025 menjadi US$ 1,78 triliun, turun US$ 41 miliar dari tahun sebelumnya. Penurunan ini didorong oleh peningkatan penerimaan pajak individu, perampingan birokrasi yang menekan jumlah pegawai federal ke tingkat terendah sejak tahun 1966, serta langkah penindakan tegas terhadap penipuan program kesejahteraan sosial. Foto: Kenaikan Utang AS Harian berdasarkan data US Treasury Rincian dan Komposisi Utang Nasional Berdasarkan laporan pembaruan utang dari Joint Economic Committee, total utang nasional bruto Amerika Serikat telah mencapai US$ 38,86 triliun pada awal bulan Maret, yang kemudian terus berlanjut hingga menembus angka US$ 39 triliun minggu ini. Struktur dari utang tersebut secara garis besar terbagi ke dalam dua kategori, yakni utang yang dipegang oleh publik sebesar US$ 31,27 triliun dan utang antar pemerintah yang mencapai nilai US$ 7,59 triliun. Instrumen utang publik AS yang dapat diperdagangkan di pasar sebagian besar didominasi oleh surat utang atau notes dengan porsi 50,55%, yang secara nominal bernilai US$ 15,76 triliun. Instrumen tagihan jangka pendek atau bills mencakup 21,83% atau senilai US$ 6,81 triliun, sementara instrumen obligasi jangka panjang atau bonds memiliki porsi 16,96% yang senilai US$ 5,29 triliun. Baca: Perang Dikuasai AI! Pentagon Gandeng Palantir Jadi Otak Tempur Amerika Sisa porsi sebesar 10,67% dialokasikan pada jenis sekuritas pembiayaan lainnya. Tingkat permintaan terhadap instrumen utang AS ini tercatat masih sangat kuat di pasar, yang tercermin dari bid-to-cover ratio per Februari 2026 di angka 2,89 untuk tagihan tenor 4 minggu, 2,39 untuk surat utang tenor 10 tahun, dan 2,75 untuk obligasi tenor 30 tahun, Dari sisi profil jatuh tempo, sekitar 33% dari utang yang dapat diperdagangkan ini akan mencapai masa jatuh temponya dalam kurun waktu dua belas bulan ke depan, dengan rata-rata umur jatuh tempo utang secara keseluruhan berada di kisaran 70 bulan. Laju Penambahan Utang dan Beban Bunga yang Terus Naik Kecepatan pemerintah Amerika Serikat dalam mengakumulasi utang memperlihatkan tingkat akselerasi yang konstan. Merujuk pada posisi 17 Maret 2026, total utang nasional telah menyentuh level US$ 39,01 triliun. Angka ini mencatatkan penambahan masif sebesar US$ 2,8 triliun jika dibandingkan dengan periode yang sama pada satu tahun sebelumnya, di mana total utang masih berada di posisi US$ 36,21 triliun. Kenaikan tahunan tersebut bersumber dari lonjakan utang publik sebesar US$ 2,45 triliun serta tambahan utang antarpemerintah senilai US$ 350,69 miliar. Laju penambahan utang ini bergerak dengan sangat cepat. Berdasarkan data pergerakan selama satu tahun terakhir, rata-rata utang negara bertambah sekitar US$ 7,67 miliar setiap harinya. Jika diturunkan ke skala waktu y
Related Posts
Hari Ini Anggota Brimob Penganiaya Siswa Mts Tual hingga Tewas Jalani Sidang Etik
- CSNBro
- 23 Februari 2026
- 0
Hari Ini Anggota Brimob Penganiaya Siswa Mts Tual hingga Tewas Jalani Sidang Etik
Andai Perang Dunia Meletus, Waspada RI Rentan Alami Krisis Energi
- CSNBro
- 5 Maret 2026
- 0
Andai Perang Dunia Meletus, Waspada RI Rentan Alami Krisis Energi
Polres Bogor Serahkan 7 Unit Rumah ASRI, Wujud Nyata Dukungan Hunian Layak bagi Masyarakat Kurang Mampu
- CSNBro
- 21 Maret 2026
- 0
Polres Bogor Serahkan 7 Unit Rumah ASRI, Wujud Nyata Dukungan Hunian Layak bagi Masyarakat Kurang Mampu
