Di Tengah Perang: AS Umumkan Kabar Genting, Purbaya Buka Suara Hari In

Di Tengah Perang: AS Umumkan Kabar Genting, Purbaya Buka Suara Hari In login HOME MARKET MY MONEY NEWS TECH LIFESTYLE SHARIA ENTREPRENEUR CUAP CUAP CUAN CNBC TV Search Search Search History Loading… RESEARCH OPINION PHOTO VIDEO INFOGRAPHIC BERBUATBAIK.ID MARKET DATA MAJOR INDEXES INDO-FX USD-FX COMMODITIES BONDS CNBC Indonesia Research Berita Research Newsletter Di Tengah Perang: AS Umumkan Kabar Genting, Purbaya Buka Suara Hari In Comment SHARE url telah tercopy Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia 11 March 2026 06:10 Foto: Infograis/ Ekonomi RI Juara 1 di Negara G20, Kalahkan China & Arab Saudi/ Aristya Rahadian Pasar keuangan Indonesia ditutup kompak pada area penguatan, IHSG dan rupiah ada di zona hijau Wall Street mayoritas melemah tertekan ketidakpastian Inflasi AS dan kelanjutan perang di Iran menjadi penggerak pasar pada hari ini Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar keuangan dalam negeri ditutup menguat pada perdagangan kemarin Selasa (10/3/2026). Bursa saham naik, rupiah dan SBN melandai pada perdagangan kemarin. Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan masih menghadapi tekanan yang cukup berat pada hari ini walaupun rebound sudah terjadi akibat kinerja yang kurang baik pada beberapa hari ini di pasar keuangan Indonesia. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) balik menguat pada perdagangan kemarin Selasa (10/3/2026) usai anjlok tajam sehari sebelumnya. IHSG yang tercatat sempat melesat 2,2% dan nyaris menyentuh level 7.500 pada awal perdagangan, harus puas memangkas penguatan dan tersisa 1,41% atau naik 103 poin ke 7.440,91 pada akhir sesi kedua. Sebanyak 534 saham naik, 190 turun, dan 93 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 19,16 triliun, melibatkan 336,26 miliar saham dalam 2,03 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar terkerek menjadi Rp 13.338 triliun. Nyaris seluruh sektor perdagangan menguat dengan kenaikan terbesar dicatatkan oleh energi dan barang baku, sedangkan hanya sektor infrastruktur dan teknologi yang tercatat melemah kemarin. Sejumlah emiten yang tercatat menjadi penggerak utama kinerja IHSG kemarin termasuk DSSA, BRMS, BBCA, BMRI dan BYAN. Sebelumnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada perdagangan dua hari yang lalu, Senin (9/3/2026). IHSG terpantau sempat menyentuh level terendah minus -5,2% ke level 7.156, namun memangkas koreksi menjadi -3,27% atau anjlok 248 poin ke level 7.337,37. Lanjut ke nilai tukar Rupiah, Rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan kemarin, Selasa (10/3/2026). Seiring pelemahan dolar AS di pasar global. Baca: Wajah IHSG di Tengah Perang, Mengapa Kerap Jatuh Saat Iran Terlibat? Melansir data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup menguat 0,47% atau terapresiasi ke level Rp16.855/US$. Penguatan ini sekaligus membalikkan pelemahan pada perdagangan sebelumnya, ketika rupiah sempat menyentuh level Rp16.990/US$ sebelum akhirnya ditutup melemah 0,15% di posisi Rp16.935/US$ pada Senin (9/3/2026). Pada perdagangan kemarin, rupiah memang sudah menunjukkan penguatan sejak awal sesi. Rupiah dibuka terapresiasi 0,62% di level Rp16.830/US$ dan bergerak dalam rentang Rp16.830/US$ hingga Rp16.890/US$ sepanjang perdagangan. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,67% ke level 98,515. Penguatan rupiah pada perdagangan kemarin ditopang kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari eksternal, pelemahan dolar AS di pasar global menjadi faktor utama yang menopang rupiah. Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terkoreksi pada perdagangan kemarin, setelah sehari sebelumnya sempat melonjak tajam akibat kekhawatiran pasar terhadap eskalasi perang di Timur Tengah. Tekanan terhadap dolar AS mulai mereda setelah Presiden AS Donald Trump dalam wawancara dengan media asing menyebut perang melawan Iran sudah “sangat tuntas”. Baca: Balistik hingga Hipersonik, Deretan Rudal Paling Mematikan di Dunia Pernyataan ini sedikit meredakan kekhawatiran investor terhadap konflik berkepanjangan yang berpotensi mengganggu pasokan energi global dan menekan pertumbuhan ekonomi dunia. Sebelumnya, perang AS-Israel melawan Iran sempat mengguncang pasar keuangan global dan memicu lonjakan harga minyak. Situasi tersebut sempat mendorong investor memburu aset aman, termasuk dolar AS. Namun, dengan mulai meredanya sebagian kekhawatiran pasar, pelaku pasar kini mengurangi kepemilikan aset berdenominasi dolar. Kondisi ini membuka ruang bagi penguatan mata uang lain, termasuk rupiah. Sementara dari dalam negeri, sentimen positif juga datang dari data penjualan eceran. Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Penjualan Riil (IPR) Januari 2026 tumbuh 5,7% secara tahunan. Lanjut ke pasar obligasi domestik, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun saat ini terindikasi pada level 6,692%,melonjak dari hari sebelumnya di level 6,741%. Kenaikan imbal hasil ini menandai aksi jual investor sehingga harga jatuh dan imbal hasil naik. Add as a preferred source on Google Dari pasar saham AS, bursa Wall Street mayoritas melemah pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia. Indeks turun di tengah perdagangan yang bergejolak, seiring harga minyak melemah dan para pelaku pasar terus memantau perkembangan perang Iran. Indeks S&P turun 0,21% dan ditutup di 6.781,48. Dow Jones Industrial Average melemah 34,29 poin atau 0,07% menjadi 47.706,51. Sebaliknya, Nasdaq Composite naik tipis 0,01% dan berakhir di 22.697,10. Sebelumnya pada hari yang sama, Dow sempat merosot hingga 296,57 poin atau sekitar 0,6%. Pada titik terendahnya, S&P 500 dan Nasdaq masing-masing sempat turun 0,5% dan 0,4%. Baca: Perang Memanas, Cadangan Devisa Israel Justru Cetak Rekor Tertinggi   Harga minyak, yang pada Senin sempat melonjak hampir US$120 per barel di tengah kekhawatiran tinggi terkait konflik Iran, turun setelah para trader memperkirakan sejumlah negara akan menggunakan cadangan minyak darurat untuk meredam gangguan pasokan akibat konflik tersebut. Harga minyak kemudian turun lebih jauh setelah Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan dalam sebuah unggahan media sosial (yang kemudian dihapus) bahwa Angkatan Laut AS berhasil mengawal sebuah kapal tanker melewati Selat Hormuz. Namun setelah unggahan tersebut tampaknya dihapus, harga minyak kembali naik sedikit dari posisi terendahnya, sementara saham-saham turun dari level tertinggi hari itu. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt kemudian mengatakan pada Selasa bahwa AS sebenarnya tidak mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz. Sentimen pasar juga tertekan setelah CBS News melaporkan bahwa Amerika Serikat mulai melihat indikasi Iran bergerak untuk menempatkan ranjau di Selat Hormuz. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun 11,94% dan ditutup di US$83,45 per barel. Sementara Brent melemah 11,28% menjadi US$87,80 per barel. Menjelang pembukaan perdagangan pada pertengahan pekan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *