Trump Kena Batunya, Perang AS-Israel ke Iran Bawa Kiamat ke Amerika login HOME MARKET MY MONEY NEWS TECH LIFESTYLE SHARIA ENTREPRENEUR CUAP CUAP CUAN CNBC TV Search Search Search History Loading… RESEARCH OPINION PHOTO VIDEO INFOGRAPHIC BERBUATBAIK.ID MARKET DATA MAJOR INDEXES INDO-FX USD-FX COMMODITIES BONDS CNBC Indonesia News Berita Internasional Trump Kena Batunya, Perang AS-Israel ke Iran Bawa “Kiamat” ke Amerika Comment SHARE url telah tercopy tfa, CNBC Indonesia 04 March 2026 06:35 Foto: Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Iran. (iStockphoto/studiocasper) Jakarta, CNBC Indonesia – Perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran dinilai berpotensi membawa dampak besar bagi perekonomian Washington. Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga energi global yang dapat mendorong inflasi, menekan daya beli masyarakat, dan menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi Negeri Paman Sam. Serangan AS dan Israel ke Iran yang dibalas oleh Teheran telah mengguncang pasar minyak dunia. Konflik tersebut mengganggu pasokan energi global, termasuk penutupan efektif Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Baca: Boom! Rudal Iran Hantam Pangkalan Militer Terbesar AS Al-Udeid Dampaknya langsung terasa pada harga minyak mentah, dengan Brent sempat melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2024. Para ekonom memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak akan segera diterjemahkan menjadi lonjakan harga bensin di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) AS, isu yang sangat sensitif secara politik. Analis utama Oxford Economics, John Canavan, mengatakan harga bensin kemungkinan akan naik hanya dalam hitungan hari. “Harga di SPBU kemungkinan akan naik dalam beberapa hari,” ujarnya kepada AFP, dikutip Rabu (4/3/2026). Baca: Geger Ada Pengkhianat di Ring 1 Khamenei? Dubes Iran Buka Suara Canavan menambahkan bahwa harga bensin di AS sebenarnya sudah menunjukkan tren kenaikan sejak awal Januari. Menurutnya, para pengecer biasanya merespons dengan cepat setiap perkembangan geopolitik yang berpotensi mendorong harga lebih tinggi. Lonjakan biaya energi ini diperkirakan akan membebani rumah tangga AS dan mengancam pengeluaran konsumen, yang mencakup sekitar dua pertiga dari produk domestik bruto (PDB) AS. Tekanan tersebut dinilai bisa merambat ke sektor lain, mulai dari transportasi hingga logistik. Baca: Iran “Dikeroyok” Negara-Negara Arab, Begini Respons Teheran Ekonom dari ING, James Knightley, mengatakan harga energi yang lebih tinggi dapat berujung pada tarif penerbangan yang lebih mahal serta peningkatan biaya distribusi barang. Meski AS relatif swasembada gas alam, ia menegaskan bahwa harga domestik tetap sangat dipengaruhi oleh pasar global, sehingga lonjakan harga internasional juga berisiko mendorong kenaikan biaya listrik. “Ini tidak diragukan lagi akan menjadi titik kritis bagi perekonomian AS,” kata Knightley. Ia memperingatkan bahwa jika masyarakat harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk bensin dan tagihan utilitas, tekanan terhadap keuangan konsumen akan semakin parah dan berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi, terutama jika perang berlangsung lebih dari beberapa minggu. Situasi ini juga menjadi ancaman politik bagi Presiden AS Donald Trump. Pemerintahannya diperkirakan akan berupaya keras menahan kenaikan harga energi karena dampaknya langsung terhadap sentimen publik menjelang pemilihan. Baca: Data Terbaru: Mayoritas Warga AS “Bela Iran”, Tak Mau Perang Kepala Ekonom Nationwide, Kathy Bostjancic, mengatakan pemerintah sangat menyadari bahwa keterjangkauan harga menjadi persoalan utama bagi banyak rumah tangga. “Harga bensin yang lebih tinggi akan berdampak negatif pada kepercayaan dan sentimen konsumen. Itu bisa terlihat di bilik suara pada bulan November,” ujarnya. Di sisi lain, perang Iran menempatkan bank sentral AS, Federal Reserve, pada posisi sulit. Risiko inflasi yang kembali meningkat mendorong suku bunga tetap tinggi, sementara perlambatan ekonomi dan potensi melemahnya pasar tenaga kerja justru membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter. Presiden Federal Reserve New York, John Williams, mengatakan bank sentral masih perlu mencermati seberapa lama dan berkelanjutan dampak konflik terhadap harga. “Kita harus menunggu dan melihat,” katanya. Knightley menilai risiko inflasi jangka pendek membuat pemangkasan suku bunga sulit dilakukan dalam waktu dekat, meskipun tekanan terhadap ekonomi semakin nyata. Menurutnya, bank sentral harus menyeimbangkan dua tujuan yang saling bertolak belakang, yakni menjaga inflasi tetap rendah dan memastikan lapangan kerja maksimal. Baca: Mengapa China dan Rusia Belum Membantu Iran Melawan Israel-AS? (tfa/tfa) Add as a preferred source on Google [Gambas:Video CNBC] Next Article Netanyahu Desak Trump Tunda Serangan Militer Terhadap Iran Tags #amerika serikat #israel #perang iran #dampak ekonomi as #harga energi #inflasi #pasar minyak #stabilitas ekonomi Related Articles Prabowo Bertemu SBY, Jokowi Hingga JK Nyaris 4 Jam, Bahas Perang Iran NEWS Analisis SBY soal Perang Iran Vs AS-Israel: Sudah Meluas dan Membesar NEWS Siap Siaga Perang Iran Makin Liar, Apindo Minta Pemerintah Lakukan Ini NEWS Petaka Perang Iran, Industri Tekstil RI Terancam Krisis Bahan Baku Ini NEWS Recommendation SHOW MORE Most Popular Features Loading… part of Add as a preferred source on Google Connect With Us ©2026 CNBC Indonesia, A Transmedia Company Kategori Market My Money News Tech Lifestyle Sharia Entrepreneur Cuap Cuap Cuan Research Opinion Photo Video Infographic Berbuatbaik.id Layanan berbuatbaik.id Pasangmata Adsmart detikEvent Trans Snow World Trans Studio Informasi Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Karir Disclaimer CNBC Indonesia My Investment Jaringan Media CNN Indonesia CNBC Indonesia Haibunda Insertlive Beautynesia Female Daily CXO Media
Related Posts
Diam-diam India Lepas Ketergantungan dari China
- CSNBro
- 18 Februari 2026
- 0
Diam-diam India Lepas Ketergantungan dari China
WFA PNS dan Pekerja Swasta Kunci Urai Kepadatan Mudik dan Balik Lebaran 2026
- CSNBro
- 17 Februari 2026
- 0
WFA PNS dan Pekerja Swasta Kunci Urai Kepadatan Mudik dan Balik Lebaran 2026
4 Tips Tubuh Tidak Cepat Dehidrasi saat Berpuasa
- CSNBro
- 18 Februari 2026
- 0
4 Tips Tubuh Tidak Cepat Dehidrasi saat Berpuasa
