China Gelar Rapat Akbar Saat Perang Memanas, Stimulus Selamatkan RI? login HOME MARKET MY MONEY NEWS TECH LIFESTYLE SHARIA ENTREPRENEUR CUAP CUAP CUAN CNBC TV Search Search Search History Loading… RESEARCH OPINION PHOTO VIDEO INFOGRAPHIC BERBUATBAIK.ID MARKET DATA MAJOR INDEXES INDO-FX USD-FX COMMODITIES BONDS CNBC Indonesia Research Berita Research Newsletter China Gelar Rapat Akbar Saat Perang Memanas, Stimulus Selamatkan RI? Comment SHARE url telah tercopy Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia 04 March 2026 06:25 Foto: Ilustrasi Trading (Stok Market) Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam pada perdagangan kemarin, IHSG melemah sementara rupiah menguat Wall Street ambruk berjamaah di tengah kekhawatiran harga minyak Stimulus lebaran, perang Iran serta pertemuan besar di China akan menjadi penggerak pasar hari ini Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam kemarin, Selasa (3/3/2026). Bursa saham melemah sementara rupiah menguat. Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan berat pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 0,91% atau 73,18 poin ke level 7.943,65 pada perdagangan Selasa (3/3/2026). Sebanyak 347 saham turun, 343 naik, dan 128 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 27,76 triliun, melibatkan 41,37 miliar saham dalam 2,78 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun tergerus menjadi Rp 14.194 triliun. Investor asing mencatat net buy yang sangat besar yakni Rp 3.45 triliun, sekaligus membaliikkan net sell pada Senin. Penutupan perdagangan menunjukkan volatilitas IHSG masih terbilang tinggi. Pada pagi hari, indeks sempat lompat 1%, sebelumnya akhirnya memangkas penguatan menjadi 0,3%. Mengutip Refinitiv, nyaris seluruh sektor berada di zona merah. Energi bertahan di zona hijau dengan penguatan 0,24%. Beralih ke pasar valas, nilai tukar rupiah menutup perdagangan Selasa (3/3/2026) di zona hijau terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Refinitiv, rupiah menguat tipis 0,03% ke level Rp16.850 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya sempat tertekan 0,57% ke posisi Rp16.855 per dolar AS. Di sisi lain, dolar AS kembali menguat di pasar global seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah pascaserangan militer AS ke Iran. Kondisi ini mendorong investor memburu dolar sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian. Penguatan greenback juga ditopang oleh kedalaman pasar keuangan AS, terutama pasar obligasi pemerintah atau US Treasury, yang kerap menjadi tujuan utama arus modal saat pelaku pasar mengurangi risiko. Situasi tersebut membuat banyak mata uang, termasuk rupiah, berada dalam tekanan. Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menegaskan terus mencermati dinamika global dan menilai eskalasi konflik telah memicu sentimen risk off. BI memastikan tetap hadir di pasar melalui berbagai instrumen intervensi, baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri, guna menjaga stabilitas nilai tukar agar tetap sesuai fundamental Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melonjak ke 6,54% pada Selasa, yang menandai rekor tertinggi sejak Agustus 2025. Lonjakan imbal hasil menandai adanya aksi jual yang membuat harga SBN jatuh sehingga imbal hasil naik. Add as a preferred source on Google Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street ambruk berjamaah pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia. Bursa saham sangat bergejolak pada Selasa, seiring kekhawatiran atas konflik berkepanjangan antara AS dan Iran yang mengguncang pasar. Namun, komentar dari Presiden Donald Trump tampaknya sedikit meredakan kekhawatiran tersebut. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 403,51 poin atau 0,83% dan ditutup di level 48.501,27. S&P 500 melemah 0,94% ke 6.816,63, sementara Nasdaq Composite anjok 1,02% dan berakhir di 22.516,69. Pada titik terendah hari itu, S&P 500 sempat merosot 2,5% dan Nasdaq turun sekitar 2,7%. Dow yang berisi 30 saham unggulan bahkan sempat anjlok lebih dari 1.200 poin atau sekitar 2,6% pada titik terendahnya. Trump mengatakan pada Selasa sore bahwa Angkatan Laut AS akan mengawal kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz jika diperlukan. “Apa pun yang terjadi, Amerika Serikat akan memastikan ARUS BEBAS ENERGI ke SELURUH DUNIA,” tulisnya dalam unggahan di Truth Social. “KEKUATAN EKONOMI dan MILITER Amerika Serikat adalah yang TERBESAR DI DUNIA – Akan ada lebih banyak tindakan selanjutnya.” Minyak mentah Brent, acuan global, ditutup naik 5,3%, melanjutkan lonjakan 6% pada Senin. Minyak WTI juga turun dari level tertingginya dan ditutup naik 4,68%, setelah sebelumnya mencatat kenaikan 6% pada sesi sebelumnya. Keduanya sempat melonjak lebih dari 9%. Baca: 10 Jalur Perdagangan Terpenting Dunia: Selat Hormuz – Terusan Suez Lonjakan awal harga energi pada hari itu sempat mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) naik karena kekhawatiran bahwa harga yang lebih tinggi dapat kembali memicu inflasi, tepat ketika investor AS berharap pada pemangkasan suku bunga Federal Reserve untuk mendorong ekonomi. Namun, imbal hasil kemudian memangkas kenaikannya seiring turunnya harga minyak. Kekhawatiran perdagangan memburuk setelah komandan Garda Revolusi Iran mengatakan bahwa Selat Hormuz telah ditutup dan Iran akan membakar kapal yang mencoba melintas. Peringatan Trump bahwa konflik dapat berlangsung lebih dari empat minggu juga memperparah kegelisahan pasar. Ada tanda-tanda lain bahwa konflik semakin dalam saat memasuki hari keempat: Kedutaan Besar AS di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, diserang drone ketika Iran meningkatkan serangannya terhadap negara tersebut. Departemen Luar Negeri AS memerintahkan evakuasi personel dari Bahrain, Irak, dan Yordania. Hizbullah yang didukung Teheran menyerang Tel Aviv dengan rudal dan drone. Kekhawatiran meningkat mengenai berapa lama negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab mampu menahan rentetan rudal dan drone Iran dengan sistem pertahanan udaranya. “Saya pikir kemungkinan misi yang lebih berkepanjangan dapat membebani pasar selama beberapa minggu ke depan,” ujar Jeffrey O’Connor, Kepala Struktur Pasar Ekuitas AS di Liquidnet, kepada CNBC. Dia menyinggung kemungkinan harga minyak tetap tinggi dan investor harus menghadapi pergerakan inflasi, imbal hasil, serta ekspektasi pemangkasan suku bunga. “Secara historis, pasar AS mampu mengabaikan guncangan geopolitik seperti ini, tetapi Selat Hormuz saat ini ditutup,” lanjutnya. Baca: Mengapa Selat Hormus Jadi Jalur Paling Vital Perdagangan Minyak dunia? Seluruh sektor dalam S&P 500 berada di zona merah pada Selasa. Sektor material dan industri mencatat penurunan terbesar karena kekhawatiran bahwa harga minyak dan biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat membebani ekonomi AS. Beberapa saham teknolo
Related Posts
Cari Obat Sakit Hati! Tiwi/Fadia Pasang Target Tinggi di All England 2026
- CSNBro
- 2 Maret 2026
- 0
Cari Obat Sakit Hati! Tiwi/Fadia Pasang Target Tinggi di All England 2026
Dalam “Ngariung Bareng Kapolda”, Kapolres Majalengka Ajak Ojol Kamtibmas Jaga Keamanan Bersama
- CSNBro
- 15 Februari 2026
- 0
Dalam “Ngariung Bareng Kapolda”, Kapolres Majalengka Ajak Ojol Kamtibmas Jaga Keamanan Bersama
Gempa Magnitudo 5,2 Guncang Agam Sumbar, Dirasakan hingga Mentawai dan Bukittinggi
- CSNBro
- 16 Februari 2026
- 0
Gempa Magnitudo 5,2 Guncang Agam Sumbar, Dirasakan hingga Mentawai dan Bukittinggi
